Pengetahuan teori yang sama, ada yang memakainya untuk menghasilkan uang, ada juga yang memakainya untuk mengalami kerugian
Tapi itu tidak berarti teknik teori tidak berguna. Kalau teori dan teknik itu tidak berguna, berarti Anda sama saja mengatakan bahwa semua orang seperti Wyckoff, Elliott, Gann, J. B. Brungg, dan ICT, juga Abub (dll) semuanya adalah orang-orang bodoh. Mendingan saja orang yang tidak paham apa-apa lalu langsung tahu caranya “all-in”.
Semakin sering orang bilang analisis teknikal tidak berguna, saya semakin merasa kemampuan kognitif mereka rendah. Ibaratnya, yang tidak bisa bahasa Inggris lalu bilang, “seluruh dunia belajar bahasa Mandarin, jadi tidak perlu belajar bahasa Inggris.”
Kalau Anda sedikit saja belajar dan memahami, lalu coba main saham untuk sekadar mencari makan, itu sebenarnya cukup mudah. Tapi tetap saja, kalau posisi (size) terlalu besar, semua ada risikonya. Apalagi untuk usia seperti kita yang tidak mampu kalah, jadi makin tidak berani membuka posisi besar untuk all-in. Alasannya sederhana: tingkat toleransi kesalahan rendah—karena tidak mampu kalah.
Jadi, cukup bisa menghasilkan uang untuk biaya hidup—menghidupi diri. Memahami kemampuan diri itu lebih penting daripada apa pun. Ingat: jangan sampai karena terlalu sering melihat uang lalu merasa uang itu bukan uang lagi, dan merasa Anda juga sudah bisa. Kalau itu terjadi, maka itulah awal dari kekalahan total.
Tapi itu tidak berarti teknik teori tidak berguna. Kalau teori dan teknik itu tidak berguna, berarti Anda sama saja mengatakan bahwa semua orang seperti Wyckoff, Elliott, Gann, J. B. Brungg, dan ICT, juga Abub (dll) semuanya adalah orang-orang bodoh. Mendingan saja orang yang tidak paham apa-apa lalu langsung tahu caranya “all-in”.
Semakin sering orang bilang analisis teknikal tidak berguna, saya semakin merasa kemampuan kognitif mereka rendah. Ibaratnya, yang tidak bisa bahasa Inggris lalu bilang, “seluruh dunia belajar bahasa Mandarin, jadi tidak perlu belajar bahasa Inggris.”
Kalau Anda sedikit saja belajar dan memahami, lalu coba main saham untuk sekadar mencari makan, itu sebenarnya cukup mudah. Tapi tetap saja, kalau posisi (size) terlalu besar, semua ada risikonya. Apalagi untuk usia seperti kita yang tidak mampu kalah, jadi makin tidak berani membuka posisi besar untuk all-in. Alasannya sederhana: tingkat toleransi kesalahan rendah—karena tidak mampu kalah.
Jadi, cukup bisa menghasilkan uang untuk biaya hidup—menghidupi diri. Memahami kemampuan diri itu lebih penting daripada apa pun. Ingat: jangan sampai karena terlalu sering melihat uang lalu merasa uang itu bukan uang lagi, dan merasa Anda juga sudah bisa. Kalau itu terjadi, maka itulah awal dari kekalahan total.
