Wkwk, mulut bilang nggak peduli, kok malah jadi tersinggung?
Orangku ini agak keras kepala. Kamu ngomong sekali, aku ada seratus balasan buat kamu—tapi ya bukan kayak kamu yang segitu rendahnya. Bolak-balik seperti mesin baca, maksudnya sama aja; kelihatan banget nggak punya wawasan.
Kalau kamu masih nggak senang, orang yang ngejar aku memang tetap pada antri—sampai ke Prancis.. .(pasrah)
Kalau penasaran banget, mulai sekarang aku bakal lebih sering berbagi pengetahuan buat orang yang belum pernah ke luar negeri.
Kalau tanpa ada rasa cinta, rasanya hambar seperti mengunyah semacam kayu. Kalau cuma menjadikan pria sebagai alat/peraga seni untuk diurutkan, pilihannya: pertama orang Asia, kedua orang kulit putih, dan kulit hitam—kecuali memang perlu—biasanya nggak ada yang mempertimbangkan, bahkan orang kulit hitamnya sendiri.
Bukan juga karena diskriminasi ras sih. Nanti kalau keluar negeri dan jalan di trotoar, jaraknya sekitar tiga meter—tarik napas dalam-dalam aja, nanti juga paham.
Untuk urusan negara, banyak yang pernah kucoba. Kalau nggak paham apa itu date, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa. date = bukan YP juga bukan sekadar pacaran.
Orang Jerman kerjanya bisa dipercaya.
Orang Prancis mulutnya manis.
Orang Amerika rela ngeluarin uang.
Orang Vietnam pintar.
Orang India sok percaya diri…
Kalau suka dengerin cerita, nanti boleh banyak ngomong.
Kata Om Sun, selamat share