Aku mengenal seorang cewek, kerja sebagai penata bunga di Futian, tokonya ada di bawah sebuah gedung perkantoran, dan bisnisnya terutama pesanan bunga musiman buat para karyawan kantoran (white collar). Awal Maret tahun ini, ada pelanggan lama yang pindah—sebelum pergi, dia memperlihatkan tumpukan kertas di dalam dompetnya. Katanya, “Nak, dulu ini kubeli selembar 80 yuan, total beli 500 buah, sampai di rumah hampir lupa. Baru sekarang aku lihat lagi sekilas harganya.”

Saat itu dia tidak terlalu menganggapnya serius. Dia cuma asal cari di ponsel—ya, waktu itu saja sudah naik jadi lebih dari 3 yuan.

Sebenarnya dia juga punya sedikit. Itu dari awal tahun lalu, bahan-bunga ditransaksikan sebagai pembayaran oleh pelanggan itu, jumlahnya sekitar 200-an. Waktu dihitung, malah dia sempat rugi sedikit karena harga. Dia merasa barang itu cuma “udara”, ditaruh di cold wallet dan tidak pernah diurus lagi—bahkan sandinya dia simpan di catatan ponsel, lama-lama jadi berdebu.

Di bulan April, tokonya harus ganti cold storage (lemari pendingin). Harganya 18.000, dia merasa mahal, jadi ingin cari yang bekas. Tapi kebetulan, barang itu seminggu bisa naik sampai tiga kali. Dia tiba-tiba ingat catatan yang penuh debu di ponselnya, langsung dia keluarkan, beresin dan urus setengah hari, semua dijual. Dari situ dia dapat lebih dari 2.000, lalu pembayaran pakai kartu kredit dicicil sedikit demi sedikit selama setengah bulan lagi—baru selesai juga urusan lemari pendingin itu.

Waktu itu di momen yang sama, dia bahkan sempat posting di story pertemanan: “Lemari baru sudah datang, simpan bunganya biar lebih segar,” ditemani emoji matahari.

Akhir Juli, aku pergi ke sana mengambil bunga, sambil lalu aku tanya sedikit. Dia bengong, lalu menunduk menghitung beberapa saat, dan akhirnya menyebutkan satu angka. Kalau dibiarkan saja tanpa dipindah, sekarang nilainya sudah jadi angka enam digit.

Dia tidak memukul dada atau menyalahkan siapa pun. Dia berdiri di sana sambil memotong batang bunga, gunting “krek-krek” bunyinya, lalu berhenti sejenak dan berkata, “Aku cuma merasa, dia sudah menemani aku selama itu, sampai aku sendiri yang menusuknya ke tanah sampai busuk.”

Sepanjang proses itu, dia tidak mengeluh soal proyek, juga tidak mencaci pasar. Dia cuma menyalahkan dirinya sendiri—waktu itu dia merasa cold storage mahal, jadi tidak rela dulu pakai bunga-bunga dari cold wallet yang dijadikan pembayaran.

Jadi aku mau tanya: kalian pernah nggak punya pengalaman seperti itu—demi menambal “lubang kecil” di depan mata, sesuatu yang seharusnya bisa jadi kebun malah diratakan pakai bulldozer? Ceritain di kolom komentar.😂

#币圈故事 #卖飞