#for #news #gold
Emas telah melakoni reli Agustus yang kuat, naik sekitar 14% selama bulan tersebut dan mencapai sekitar $4.700/oz lebih awal pekan ini. Pergerakan ini didorong oleh kombinasi melemahnya dolar AS, kekhawatiran terhadap prospek fiskal AS, serta meningkatnya kembali permintaan terhadap aset berwujud.
Katalis utamanya adalah keputusan Kementerian Keuangan AS untuk meningkatkan program pembelian kembali (buyback) obligasi Treasury berjangka lebih panjang. Langkah ini pada awalnya mendorong imbal hasil (yield) jangka panjang turun, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan utang AS serta daya beli dolar di masa depan. Hal itu mendorong investor untuk beralih ke aset seperti emas dan Bitcoin, menghidupkan kembali apa yang disebut “debasement trade” (perdagangan penurunan nilai).
Dolar yang lebih lemah juga memberikan dorongan penting lainnya. Karena harga emas ditetapkan dalam dolar, dolar USD yang melemah umumnya membuat bullion lebih murah bagi pembeli internasional, sehingga meningkatkan permintaan. Pada saat yang sama, kekhawatiran terhadap utang nasional AS yang telah melampaui $40 triliun, inflasi yang terus berlanjut, dan imbal hasil Treasury yang tetap tinggi memperkuat daya tarik emas sebagai penyimpan nilai (store of value).
Namun, ada risiko jangka pendek. Emas turun sekitar 0,5% menjadi $4.580/oz pada 28 Agustus, setelah mencapai kira-kira $4.696 lebih awal pekan ini, ketika pasar bersiap untuk pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole. Sikap Fed yang lebih hawkish dapat mendorong imbal hasil dan dolar lebih tinggi, yang berpotensi memicu sebagian aksi ambil untung pada emas.
Emas telah melakoni reli Agustus yang kuat, naik sekitar 14% selama bulan tersebut dan mencapai sekitar $4.700/oz lebih awal pekan ini. Pergerakan ini didorong oleh kombinasi melemahnya dolar AS, kekhawatiran terhadap prospek fiskal AS, serta meningkatnya kembali permintaan terhadap aset berwujud.
Katalis utamanya adalah keputusan Kementerian Keuangan AS untuk meningkatkan program pembelian kembali (buyback) obligasi Treasury berjangka lebih panjang. Langkah ini pada awalnya mendorong imbal hasil (yield) jangka panjang turun, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan utang AS serta daya beli dolar di masa depan. Hal itu mendorong investor untuk beralih ke aset seperti emas dan Bitcoin, menghidupkan kembali apa yang disebut “debasement trade” (perdagangan penurunan nilai).
Dolar yang lebih lemah juga memberikan dorongan penting lainnya. Karena harga emas ditetapkan dalam dolar, dolar USD yang melemah umumnya membuat bullion lebih murah bagi pembeli internasional, sehingga meningkatkan permintaan. Pada saat yang sama, kekhawatiran terhadap utang nasional AS yang telah melampaui $40 triliun, inflasi yang terus berlanjut, dan imbal hasil Treasury yang tetap tinggi memperkuat daya tarik emas sebagai penyimpan nilai (store of value).
Namun, ada risiko jangka pendek. Emas turun sekitar 0,5% menjadi $4.580/oz pada 28 Agustus, setelah mencapai kira-kira $4.696 lebih awal pekan ini, ketika pasar bersiap untuk pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole. Sikap Fed yang lebih hawkish dapat mendorong imbal hasil dan dolar lebih tinggi, yang berpotensi memicu sebagian aksi ambil untung pada emas.