$BTR $SNDK $BTC Perang dagang kembali berkobar: “black swan makro” di dunia kripto muncul lagi
AS mempertimbangkan untuk mengenakan tarif tambahan 7,5% pada barang-barang dari Tiongkok, dan pihak Tiongkok membalas dengan tegas: “dengan tegas menentang”—pertarungan perdagangan yang berlangsung lama ini kembali meningkat lagi pada musim gugur 2026.
Bagi dunia kripto, ini bukan sekadar judul berita biasa, melainkan perombakan logika makro:
Pertama, preferensi risiko turun drastis. Ketika ketegangan perdagangan AS-Tiongkok memanas, dana global secara naluriah lari ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas. Sebagai aset berisiko, Bitcoin dalam jangka pendek akan mengalami penarikan likuiditas. Mengingat periode perang dagang 2019-2020, BTC tidak pernah naik karena “menghindari risiko”; sebaliknya, BTC justru mengikuti volatilitas pasar saham AS.
Kedua, ekspektasi inflasi dan kenaikan suku bunga. Pengenaan tarif menaikkan biaya impor. Inflasi di AS sulit mereda, dan The Fed tidak punya alasan untuk menurunkan suku bunga—bahkan mungkin dipaksa untuk kembali mengencangkan. Dalam lingkungan suku bunga tinggi, valuasi aset berjangka panjang seperti Bitcoin tertekan; peluang menembus level di atas $80K menjadi semakin sulit.
Ketiga, tekanan pada yuan. Jika konflik perdagangan meningkat, ekspektasi depresiasi yuan akan memanas. Dana dari Tiongkok mungkin memiliki kebutuhan untuk lindung nilai—ini mungkin satu-satunya potensi kabar baik bagi dunia kripto, tetapi kekuatannya sulit mengimbangi keseluruhan angin sakal makro.
Saat ini, BTC sendiri masih terkekang oleh “tembok pasokan” di kisaran $79K-$80K dan angin sakal makro. Jika perang dagang kembali meningkat, itu sama saja dengan menambah beban. Para trader perlu mencermati secara saksama rincian dari “langkah-langkah yang menyusul” dari pihak Tiongkok serta tindakan lanjutan dari pihak AS—jika salah satu pihak menambah eskalasi, dapat memicu gelombang penjualan aset berisiko baru. Selama arahnya belum jelas, tetap waspada, lakukan lindung nilai, dan jangan bertaruh pada arah dalam badai makro.
AS mempertimbangkan untuk mengenakan tarif tambahan 7,5% pada barang-barang dari Tiongkok, dan pihak Tiongkok membalas dengan tegas: “dengan tegas menentang”—pertarungan perdagangan yang berlangsung lama ini kembali meningkat lagi pada musim gugur 2026.
Bagi dunia kripto, ini bukan sekadar judul berita biasa, melainkan perombakan logika makro:
Pertama, preferensi risiko turun drastis. Ketika ketegangan perdagangan AS-Tiongkok memanas, dana global secara naluriah lari ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas. Sebagai aset berisiko, Bitcoin dalam jangka pendek akan mengalami penarikan likuiditas. Mengingat periode perang dagang 2019-2020, BTC tidak pernah naik karena “menghindari risiko”; sebaliknya, BTC justru mengikuti volatilitas pasar saham AS.
Kedua, ekspektasi inflasi dan kenaikan suku bunga. Pengenaan tarif menaikkan biaya impor. Inflasi di AS sulit mereda, dan The Fed tidak punya alasan untuk menurunkan suku bunga—bahkan mungkin dipaksa untuk kembali mengencangkan. Dalam lingkungan suku bunga tinggi, valuasi aset berjangka panjang seperti Bitcoin tertekan; peluang menembus level di atas $80K menjadi semakin sulit.
Ketiga, tekanan pada yuan. Jika konflik perdagangan meningkat, ekspektasi depresiasi yuan akan memanas. Dana dari Tiongkok mungkin memiliki kebutuhan untuk lindung nilai—ini mungkin satu-satunya potensi kabar baik bagi dunia kripto, tetapi kekuatannya sulit mengimbangi keseluruhan angin sakal makro.
Saat ini, BTC sendiri masih terkekang oleh “tembok pasokan” di kisaran $79K-$80K dan angin sakal makro. Jika perang dagang kembali meningkat, itu sama saja dengan menambah beban. Para trader perlu mencermati secara saksama rincian dari “langkah-langkah yang menyusul” dari pihak Tiongkok serta tindakan lanjutan dari pihak AS—jika salah satu pihak menambah eskalasi, dapat memicu gelombang penjualan aset berisiko baru. Selama arahnya belum jelas, tetap waspada, lakukan lindung nilai, dan jangan bertaruh pada arah dalam badai makro.
