Fakta yang saya lihat setelah menghabiskan tiga tahun di Hong Kong: harapan hidup warga Hong Kong tertinggi di dunia, pernah sempat mengungguli Jepang, terutama karena…

Kemewahan di Hong Kong setelah tiga tahun—pada awalnya hanya terasa tempat itu bising, sempit, dan ritmenya cepat sekali sampai orang bisa terseret masuk pusaran.

Di kereta bawah tanah semua orang menunduk dan buru-buru berjalan, di pinggir jalan selalu ada saja yang menyuruhmu cepat-cepat.

Lalu perlahan saya paham satu hal:

Harapan hidup rata-rata orang Hong Kong berada di peringkat teratas dunia; kadang Jepang langsung tertinggal di belakang.

Uangnya banyak, rumah sakit bagus, aturan rokok ketat—semuanya itu terlihat jelas di permukaan.

Di balik inti itu, masih ada sesuatu yang hangat—semangat mereka yang “orang berbuat baik hidupnya panjang”.

Mari saya mulai dari sesuatu yang benar-benar saya lihat sendiri: kemakmuran di Hong Kong.

Suatu kali, saat akhir pekan, saya membeli bakpao di jalan Mong Kok.

Tiba-tiba sekelompok siswa menengah mengerumuni—mereka mengangkat bendera kecil dan kotak sumbangan, sambil tertawa kecil memanggil, “Beli bendera ya!”

Satu keping, dua keping, sepuluh keping pun boleh. Mereka langsung menempelkan stiker bulat di dada Anda.

Saat stiker itu ditempel, seluruh jalan seakan ikut sedikit lebih terang.

Baru kemudian saya tahu, itu namanya “jual bendera”; setiap hari Sabtu seluruh kota ada.

Kebanyakan relawan adalah siswa. Enam dari sepuluh orang di Hong Kong minimal menyumbang setahun sekali.

Tahun gempa Wenchuan, di wilayah yang dihuni tujuh juta orang, kalangan masyarakat menyumbang lebih dari 20 miliar dolar Hong Kong untuk legislatif tambahan—rata-rata sekitar tiga ribu per orang.

Bukan pameran orang kaya, melainkan hasil tabungan orang biasa—sedikit demi sedikit.

Kalau dilihat ke atas lagi, kisah para tokoh besar itu lebih seperti novel.

Ketika Shaw Brothers meninggal, usianya 107 tahun. Tian Jia Bing 99 tahun, Yu Peng Nian 93 tahun, dan Li Ka-shing juga sudah lebih dari 90 tahun.

Mereka dulu semua pernah menderita di masa awal; setelah kaya, namun tidak mengurung diri mereka dalam brankas asuransi.

Shaw Brothers membangun lebih dari enam ribu bangunan Yifufu di wilayah daratan; Tian Jia Bing menyumbang lebih dari tiga ratus sekolah. Yu Peng Nian menjalankan “Aksi Pencerahan”—membuat 400 ribu penderita katarak bisa melihat lagi. Pada akhirnya, ia menyumbangkan seluruh aset bernilai beberapa ratus miliar.

Gu Tianle lebih rendah hati. Dari uang yang didapat saat membintangi film murahan, selama sembilan tahun diam-diam ia membangun lebih dari seratus sekolah di Guizhou, Yunnan, dan Guangxi. Di daftar resmi namanya kecil-kecil saja, bahkan tidak ada foto promosi pun.

Yayasan model seperti itu, lembaga kecil yang tak mencolok: stafnya semuanya relawan. Uang perjalanan dinas mereka keluarkan sendiri. Selama tujuh belas tahun di pegunungan, mereka membangun lebih dari 1.300 sekolah dan sekitar 300 klinik kesehatan.

Uangnya tidak banyak, tapi hal yang dikerjakan benar-benar nyata.

Kalau cerita-cerita ini dirangkai, tiba-tiba saya mengerti ucapan dalam Lun Yu: “Orang bijak menikmati, orang berbuat kebajikan berumur panjang.”

Orang Hong Kong menganggap amal sebagai rutinitas—alamiah seperti bernapas.

Pemerintah yang membiayai, rakyat yang mengelola, donasi bebas pajak, dan keuangan sepenuhnya transparan.

Orang kaya bisa menghamburkan uang untuk menciptakan aura, sedangkan orang biasa menyusun fondasi sedikit demi sedikit.

Suasana ketika setiap orang menambahkan kehangatan bagi masyarakat seperti itu membuat orang jauh lebih sedikit mengalami kegelisahan batin, dan jauh lebih banyak merasa mantap dan tenang.

Tentu, kemampuan keras juga harus ada.

Dasar ekonomi kuat, PDB per kapita tinggi. Uang bisa “ditimpa” jadi rumah sakit yang bagus dan pencegahan yang baik.

Rumah sakit pemerintah murah: untuk berobat jalan hanya puluhan dolar, rawat inap sehari lebih dari seratus. Pemerintah mengucurkan lebih dari 70 miliar dolar setahun; sedangkan rumah sakit swasta memberi pilihan bagi yang ingin cepat.

Pengendalian rokok ketat: di tempat umum kalau merokok satu batang denda lima ribu. Tingkat perokok jadi rendah, penyakit kronis ikut berkurang.

Kesadaran berolahraga kuat, bentuk tubuh secara keseluruhan cenderung ramping.

Ini semua “perangkat keras” untuk memperpanjang umur sudah disiapkan.

Kalau harus dibilang pengalaman terdalam setelah tiga tahun bercampur di sana: sekalipun perangkatnya paling bagus, kalau tidak ada “kelembutan” lembut yang bernama kebajikan itu, Anda tidak akan sanggup menopang hingga jadi yang pertama di dunia.

Orang Hong Kong tidak hidup lama hanya mengandalkan bubur bening dan hidangan kecil, atau bahan misterius apa pun. Mereka hidup panjang karena uang di saku, kebiasaan yang teratur, “jalan cepat” di depan pintu rumah sakit, dan ditambah satu niat baik di dalam hati—bersedia menyalakan lampu untuk orang lain.

“Kebajikan membawa umur panjang.” Kalimat itu di sini bukan isapan kosong—melainkan pemandangan jalan yang benar-benar hidup, sekolah-sekolah, dan sederet stiker kecil yang ditempel di dada orang-orang.

Sampai di sini ceritanya. Kalau Anda bertanya, seandainya suatu hari saya harus meninggalkan Hong Kong, apa yang paling ingin saya bawa kembali—

Bukan gedung tinggi, bukan juga makanan enak, melainkan sesuatu yang nyata: “agar semua bisa hidup sedikit lebih lama dan lebih baik” 🧡

#香港大会 #香港王富贵