🇺🇸🇮🇷 AS (Amerika Serikat) memperketat blokade terhadap Iran, tetapi rezim mungkin tetap mampu bertahan

Washington kembali bertaruh pada tekanan ekonomi sebagai instrumen untuk melemahkan Teheran, namun ada satu pertanyaan besar: sanksi dapat melumat sebuah ekonomi tanpa harus menyebabkan jatuhnya rezim yang mengendalikannya.

Dalam analisis yang dipublikasikan oleh The Economist, ofensif baru AS dipaparkan sebagai upaya untuk meningkatkan secara drastis tekanan finansial terhadap Iran, dengan langkah-langkah yang ditujukan pada pendapatan minyaknya, saluran keuangannya, serta jaringan perdagangan yang memungkinkan negara itu mempertahankan arus devisa.

Perekonomian Iran sudah berada dalam situasi yang sangat genting, ditandai oleh inflasi yang tinggi, kesulitan perdagangan, merosotnya daya beli, dan pembatasan yang ketat untuk mengakses sistem keuangan internasional. Kini Washington berupaya membuat biaya untuk menjalankan aktivitas-aktivitas tersebut menjadi semakin mahal, termasuk kemungkinan sanksi sekunder terhadap perusahaan dan negara yang terus menjalin bisnis dengan Teheran.

Namun, Iran memiliki pengalaman. Selama puluhan tahun, Iran telah mengembangkan mekanisme untuk menghindari sanksi, menggunakan perantara, mengubah rute perdagangan, dan memanfaatkan jaringan keuangan alternatif. Selain itu, Tiongkok tetap menjadi pasar penting bagi minyak Iran, yang menyediakan sumber pendapatan yang signifikan bagi Teheran.

Ada pula risiko politik bagi Washington. Memburuknya kondisi ekonomi dapat meningkatkan ketidakpuasan rakyat, tetapi tekanan dari luar juga dapat dimanfaatkan rezim untuk memperkuat nasionalisme, menampilkan Amerika Serikat sebagai ancaman eksternal, dan membenarkan penindasan di dalam negeri yang lebih besar.

Bagi Amerika Serikat, dilema ini kian rumit: semakin besar tekanan ekonomi, semakin besar pula dampaknya terhadap Teheran, tetapi juga risiko pembalasan dan potensi eskalasi baru di Timur Tengah semakin meningkat.