Tulis untuk diriku sendiri yang berusia 28 tahun
Malam ini aku minum sedikit, lalu merenung. Aku merasa bingung, jalan ini harus ke mana. Aku berusia 28 tahun, lahir tahun 1998. Berdiri di persimpangan hidup, dulu kupikir ini adalah usia yang penuh kemungkinan tanpa batas. Namun kenyataannya justru menamparku. Karierku belum ada kemajuan, kampung halamanku terasa sulit untuk ditinggalkan sekaligus sulit untuk beradaptasi, dan aku masih terus mencari diriku di perjalanan ini. Aku tidak memiliki kemampuan yang luar biasa, tidak punya gelar yang mengagumkan, wajahku biasa saja, keluargaku juga biasa saja. Keinginan banyak, tapi dompet kosong. Di satu sisi aku meragukan diri sendiri, tetapi aku tetap memaksa bertahan maju; di sisi lain aku masih mengagumi masa depan yang indah—ingin melihat uang, ingin mendapatkan keuntungan yang lebih tebal. Aku ingin keluarga bisa menjalani hari-hari yang lebih baik. Orang tuaku sudah makin tua, satu tahun demi tahun mereka semakin terlihat lapuk; di wajah mereka sudah muncul keriput dan rambut putih. Dan aku juga belum bisa mewujudkan
kebanggaan mereka. Aku benar-benar merasa malu!
Tak terasa aku sudah 28 tahun. Cepat sekali. Menyia-nyiakan hidup di usia 28 tahun lebih, namun rasanya seperti menyia-nyiakan waktu. Selama bertahun-tahun, aku berlarian ke mana-mana demi pekerjaan—kesana-kemari, jatuh bangun, tapi tak ada yang berhasil. Wajahku penuh kesedihan.
Jika menoleh ke belakang, bukan hanya air mata yang menetes; aku ingin membeli bunga osmanthus untuk ditemani minum arak, tapi itu tak akan sama seperti dulu—seperti perjalanan masa muda. Namun kenapa bunganya bisa mekar lagi di kemudian hari, sedangkan manusia tak bisa kembali menjadi pemuda lagi. Aku dulu mengira usia 28 tahunku masih jauh; tapi saat kulihat ke belakang, ternyata ia sudah berada di depan mata!
Malam ini aku minum sedikit, lalu merenung. Aku merasa bingung, jalan ini harus ke mana. Aku berusia 28 tahun, lahir tahun 1998. Berdiri di persimpangan hidup, dulu kupikir ini adalah usia yang penuh kemungkinan tanpa batas. Namun kenyataannya justru menamparku. Karierku belum ada kemajuan, kampung halamanku terasa sulit untuk ditinggalkan sekaligus sulit untuk beradaptasi, dan aku masih terus mencari diriku di perjalanan ini. Aku tidak memiliki kemampuan yang luar biasa, tidak punya gelar yang mengagumkan, wajahku biasa saja, keluargaku juga biasa saja. Keinginan banyak, tapi dompet kosong. Di satu sisi aku meragukan diri sendiri, tetapi aku tetap memaksa bertahan maju; di sisi lain aku masih mengagumi masa depan yang indah—ingin melihat uang, ingin mendapatkan keuntungan yang lebih tebal. Aku ingin keluarga bisa menjalani hari-hari yang lebih baik. Orang tuaku sudah makin tua, satu tahun demi tahun mereka semakin terlihat lapuk; di wajah mereka sudah muncul keriput dan rambut putih. Dan aku juga belum bisa mewujudkan
kebanggaan mereka. Aku benar-benar merasa malu!
Tak terasa aku sudah 28 tahun. Cepat sekali. Menyia-nyiakan hidup di usia 28 tahun lebih, namun rasanya seperti menyia-nyiakan waktu. Selama bertahun-tahun, aku berlarian ke mana-mana demi pekerjaan—kesana-kemari, jatuh bangun, tapi tak ada yang berhasil. Wajahku penuh kesedihan.
Jika menoleh ke belakang, bukan hanya air mata yang menetes; aku ingin membeli bunga osmanthus untuk ditemani minum arak, tapi itu tak akan sama seperti dulu—seperti perjalanan masa muda. Namun kenapa bunganya bisa mekar lagi di kemudian hari, sedangkan manusia tak bisa kembali menjadi pemuda lagi. Aku dulu mengira usia 28 tahunku masih jauh; tapi saat kulihat ke belakang, ternyata ia sudah berada di depan mata!