Operasional Tesla makin terasa semakin magis.
Sepanjang paruh pertama tahun ini, Cybertruck hanya terjual 7.263 unit di AS, turun 32,2% dibanding tahun sebelumnya. Pabrik di Texas merencanakan kapasitas produksi tahunan 250.000 unit, tetapi tingkat pemakaiannya nyaris di bawah 10%. Janji Elon Musk saat itu tentang “produksi 250.000 hingga 500.000 unit per tahun” sudah tiga tahun berlalu—bahkan belum mencapai penjualan 100.000 unit.
Hasilnya bagaimana? Tidak menurunkan harga untuk promo, malah menaikkan harga 5.000 dolar: versi dual-motor naik dari 69.990 menjadi 74.990, Premium AWD dari 79.990 menjadi 84.990, sedangkan varian top yaitu Cyberbeast tetap di 99.990.
Penjualan makin turun, tapi harga makin mahal—ini logika bisnis apa?
Analis Morningstar mengungkapkannya: Tesla sama sekali tidak berniat menjadikan Cybertruck sebagai kendaraan “laku massal”. Sebaliknya, mereka memposisikannya sebagai “mainan mewah dengan volume penjualan rendah namun harga per unit tinggi”, meraup premium lewat desain yang unik sekaligus menjaga margin keuntungan.
Lebih ekstrem lagi, Tesla bahkan sudah menghentikan produksi Model S dan Model X, sehingga lini produksinya dialihkan untuk Cybercab dan robot Optimus. Artinya, era mobil mewah berbahan bakar fosil Tesla sudah berakhir—Cybertruck kini harus memikul posisi sebagai “wajah lini produk kelas atas”.
Namun biaya penghentian produksi juga sangat mahal: uang untuk mesin press raksasa dan cetakan khusus sudah ditanam besar-besaran. Menghentikan produksi berarti penurunan nilai aset dalam jumlah besar + kapasitas menganggur. Jadi, lebih baik menaikkan harga meski sulit terjual, daripada menghentikan produksi.
Kesepakatan pasar sangat gamblang: Cybertruck adalah salah satu produk Tesla yang paling gagal.
Truk pikap yang tidak laku tapi justru naik harga—apakah Anda bersedia membayar “pajak desain”-nya? $TSLA
Sepanjang paruh pertama tahun ini, Cybertruck hanya terjual 7.263 unit di AS, turun 32,2% dibanding tahun sebelumnya. Pabrik di Texas merencanakan kapasitas produksi tahunan 250.000 unit, tetapi tingkat pemakaiannya nyaris di bawah 10%. Janji Elon Musk saat itu tentang “produksi 250.000 hingga 500.000 unit per tahun” sudah tiga tahun berlalu—bahkan belum mencapai penjualan 100.000 unit.
Hasilnya bagaimana? Tidak menurunkan harga untuk promo, malah menaikkan harga 5.000 dolar: versi dual-motor naik dari 69.990 menjadi 74.990, Premium AWD dari 79.990 menjadi 84.990, sedangkan varian top yaitu Cyberbeast tetap di 99.990.
Penjualan makin turun, tapi harga makin mahal—ini logika bisnis apa?
Analis Morningstar mengungkapkannya: Tesla sama sekali tidak berniat menjadikan Cybertruck sebagai kendaraan “laku massal”. Sebaliknya, mereka memposisikannya sebagai “mainan mewah dengan volume penjualan rendah namun harga per unit tinggi”, meraup premium lewat desain yang unik sekaligus menjaga margin keuntungan.
Lebih ekstrem lagi, Tesla bahkan sudah menghentikan produksi Model S dan Model X, sehingga lini produksinya dialihkan untuk Cybercab dan robot Optimus. Artinya, era mobil mewah berbahan bakar fosil Tesla sudah berakhir—Cybertruck kini harus memikul posisi sebagai “wajah lini produk kelas atas”.
Namun biaya penghentian produksi juga sangat mahal: uang untuk mesin press raksasa dan cetakan khusus sudah ditanam besar-besaran. Menghentikan produksi berarti penurunan nilai aset dalam jumlah besar + kapasitas menganggur. Jadi, lebih baik menaikkan harga meski sulit terjual, daripada menghentikan produksi.
Kesepakatan pasar sangat gamblang: Cybertruck adalah salah satu produk Tesla yang paling gagal.
Truk pikap yang tidak laku tapi justru naik harga—apakah Anda bersedia membayar “pajak desain”-nya? $TSLA

