24 Agustus, Xi Jinping merumuskan empat prinsip tentang Palestina: penyelesaian politik, dua negara, perlindungan kemanusiaan, dan kepatuhan terhadap hukum internasional. Dan saya tersangkut pada satu kalimat:
“Palestina dikelola oleh rakyat Palestina.”
Sekilas—diplomasi. Tapi kalau dilihat lebih luas, muncul pertanyaan yang menarik. Tiongkok sudah menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia. Ia membutuhkan minyak, pasar, jalur perdagangan, teknologi. Di Timur Tengah, ia memiliki kepentingan ekonomi yang sangat besar. Artinya, Tiongkok mendapatkan keuntungan dan memperluas pengaruhnya. Tak ada yang menyembunyikan itu. Tapi mengapa sampai sekarang kita belum melihat urutan historis yang biasa: pengaruh ekonomi → kediktatoran politik → sanksi → pergantian rezim → intervensi militer?
Sebaliknya, Tiongkok membantu memulihkan hubungan Iran dan Arab Saudi, menerima perundingan dari faksi-faksi Palestina, dan kembali menegaskan prinsip: nasib Palestina harus ditentukan oleh orang Palestina sendiri.
Dan di sinilah, menurut saya, mulai bagian yang paling menarik. Keuntungan ekonomi saja belum tentu berarti imperialisme. Anda bisa berdagang, berinvestasi, membangun infrastruktur, dan menghasilkan keuntungan. Pertanyaannya adalah: apakah kekuatan ekonomi itu berubah menjadi hak untuk memerintah negara lain?
Tiongkok punya kepentingannya sendiri — tentu saja. Tapi ekonomi Tiongkok sendiri tersusun secara berbeda dari kapitalisme barat klasik. Bank-bank kunci, tanah, sektor-sektor strategis, dan perusahaan-perusahaan terbesar berada di bawah kendali negara dan kendali publik, sedangkan kekuasaan politik berada di tangan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Mungkin itulah sebabnya, pertumbuhan kekuatan Tiongkok tidak menuntut perilaku eksternal yang sama seperti yang secara historis menyertai ekspansi modal swasta dari negara-negara Barat?
Ini, omong-omong, pertanyaan yang bagus, sekaligus bagi mereka yang secara otomatis menyebut Tiongkok sebagai “imperialisme baru”. Jika itu benar-benar imperialisme — apa bukti materiilnya? Di mana perang untuk mengganti pemerintahan? Di mana tuntutannya: “kalau mau berdagang dengan kami, ubah tatanan politik”? Di mana sistem sanksi global yang memaksa negara-negara ketiga untuk menolak mitra yang tidak disukai Beijing?
Perbedaannya sudah menarik untuk diamati.
Dan karena itu, frasa “Palestina diatur oleh orang Palestina” bagi saya lebih penting daripada pernyataan diplomatik biasa. Mungkin kita sedang menyaksikan pengujian atas gagasan yang jauh lebih besar: apakah negara besar yang kuat dapat memperbesar pengaruh ekonominya tanpa mengubahnya menjadi hak untuk secara politik menundukkan negara lain? Dan jika Tiongkok mempertahankan prinsip ini seiring pertumbuhan selanjutnya, maka pertanyaannya tidak lagi hanya tentang Tiongkok.
Dan bagaimana, menurut Anda, apakah sistem sosialis dapat melahirkan model hubungan internasional yang benar-benar berbeda?
❓Menurut Anda: apakah Tiongkok benar-benar menawarkan jalan yang berbeda — atau saat ini masih berada pada tahap perkembangan ketika baginya lebih menguntungkan untuk bertindak seperti itu?

