Banyak orang menjadikan “mengutamakan perdamaian” sebagai pedoman, menganggap sikap mengalah dan menahan diri sebagai bentuk kemurahan hati. Maka ketika ada yang tersinggung, mereka tersenyum dan berkata tidak apa-apa; ketika orang melampaui batas, mereka menyuruh diri sendiri untuk tidak terlalu memikirkannya. Padahal jelas-jelas hati mereka sudah geram, tetapi tetap menahan agar tidak meledak. Mereka mengira ini adalah ketenangan budi, lapang dada, dan kebaikan hati. Padahal, tahukah kamu? Setiap kali kamu terlalu sering dan tanpa prinsip mengalah, itu hanya memberi luka pada tubuh dan pikiranmu sendiri.
Jangan mengira jika kamu menahan sementara, semuanya akan menjadi tenang. Mundur selangkah, maka langit akan terbuka dan laut akan terasa luas. Di dunia ini ada orang-orang yang tidak akan menjadi jera hanya karena kamu terus mengalah. Semakin sering kamu berkompromi dan menahan diri, yang kamu dapatkan hanya satu: mereka akan semakin berani, semakin tidak terkendali, dan semakin melangkah melampaui batas.
Semakin kamu tidak henti memberi ruang, orang lain akan semakin menganggap kamu “buah lembek” yang mudah diperas; semakin mereka akan memanfaatkanmu, lalu makin parah lagi tindakannya. Jangan jadikan menelan amarah sebagai kekuatan batin, dan jangan pula menganggap pengalah yang tanpa batas sebagai kemurahan hati untuk kesejahteraan dunia. Sebagaimana dikatakan dalam “Pemikiran tentang ‘menahan’”: ketika harus menahan, maka menahan itu bermanfaat; ketika tidak seharusnya menahan, maka menahan justru merugikan. Jika sekali ada pelanggaran, cukup beri peringatan yang baik. Jika kedua kali seseorang berbuat salah, masih bisa dimaafkan. Jika ketiga kalinya menginjak-injak batas, jangan lagi bersikap sopan dan memberi toleransi.
Kesempatan sudah diberikan, tak perlu lagi diberikan. Toleransi sudah cukup diberikan, tidak perlu lagi terus menahan.