Jarak untuk bertemu om besar tinggal satu hari. Aku membaca ulang《Binance Life》sekali lagi.

Di dalam buku itu ada tiga momen—setiap kali baca, rasanya makin “ngehook”——

Pertama: kartu pekerja McDonald’s saat umur 14 tahun. Dia menggantungkannya di dada, dengan upah beberapa dolar Singapura per jam. Saat itu tak ada yang membayangkan, anak magang itu kelak akan menatap teks whitepaper Bitcoin dengan linglung di bilik-bilik kotak ala Bloomberg.

Kedua: 4 September 2017. Binance baru saja genap dua bulan, belum menghasilkan keuntungan, lalu larangan datang. Dia tidak rapat, tidak ragu—5 menit langsung memutuskan: memakai uang perusahaannya untuk mengganti kerugian pengguna, 6 juta dolar AS, setara 40% dari seluruh harta yang dimiliki saat itu. Dia berkata: “Uang pengguna bukan uang saya.”

Ketiga: tahun 2023, saat kesepakatan damai bernilai 4,3 miliar, dia mengundurkan diri. Dunia luar bilang itu sedang di titik rendah, tapi dia berbalik menulis buku ini—membentangkan semuanya di kertas: sembilan tahun yang berangkat dari 5 koin dan 2 bahasa. Bagaimana dia bertahan dari berbagai keraguan, bagaimana membangun BNB Chain dari 0 sampai jadi ekosistem, bagaimana membuat pengguna global dari 5 juta menjadi 323 juta, volume transaksi dari 0 menjadi 3,4 miliar miliar dolar. Tidak ada satu kalimat pun “aku hebat”; yang ada hanya “begitulah cara aku melewatinya.”

Sekarang Binance genap sembilan tahun. Bahasanya berubah dari 2 menjadi lebih dari 40, token dari 5 menjadi lebih dari 600. Abu Dhabi memberikan investasi 2 miliar dolar AS—tapi kalimat yang paling sering dia sebut tetap: “Lindungi pengguna.”

Buku ini bukan kitab sukses-suksesan. Ini manuskrip nyata dari seorang orang biasa yang memikul—mentah-mentah—khayalan untuk membuat siapa pun di seluruh dunia bisa bertransaksi secara bebas. Cocok untuk siapa? Cocok untuk semua orang yang masih di jalan, yang belum menyerah—entah kamu anak-anak, orang paruh baya, atau seperti aku: orang biasa yang besok akan bertemu idola.

Terima kasih atas undangannya, @BNBCHAINZH.

Om besar, sampai jumpa besok. Bukan sekadar bertemu satu legenda—melainkan bertemu dirimu sendiri yang berangkat dari McDonald’s dan terus melangkah.