#dusk $DUSK

Dua hari ini saya terus membaca posting terbaru SME Tokenization dari @Dusk . Semakin saya merasa, di RWA, masalah sebenarnya bukanlah “mengubah aset menjadi token”.

Tapi:

kapan status kepemilikan di chain benar-benar akan berubah menjadi catatan yang benar-benar menjadi acuan pasar?

Ambil contoh Dutch BV yang disebut di tulisan Dusk.

Saham bisa didigitalisasi, dan perubahan pemegangnya bisa dicatat di chain.

Namun dalam kenyataan, transfer saham BV tetap melibatkan proses hukum seperti shareholder register, notaris hukum perdata, dan akta notaris.

Jadi jika pada akhirnya berubah menjadi:

satu pembukuan di chain;

satu pembukuan di internal perusahaan;

satu pembukuan di pihak administrator;

satu pembukuan di tempat transaksi;

maka tokenization sebenarnya hanya menambahkan satu lapis pencatatan.

Di belakang layar tetap perlu reconciliation.

Sekarang justru saya merasa, bagian paling penting dari pemikiran Dusk ini bukanlah “menghapus semua institusi keuangan lama”.

Melainkan membuat peran-peran yang memang sudah ada—issuer, administrator, venue—sebisa mungkin bekerja di sekitar satu set ownership state yang sama.

Kewajiban hukum tetap harus dijalankan.

Tapi setelah proses selesai, jangan lagi sampai beberapa sistem harus diperbarui secara manual satu per satu.

Itulah titik balik efisiensi yang saya pahami.

Catatan di chain sendiri bukanlah yang paling penting.

Yang penting adalah kapan catatan itu tidak lagi hanya menjadi salinan di samping, melainkan mulai benar-benar masuk ke proses resmi penerbitan, transfer, penyelesaian (settlement), dan servicing lanjutan.

Kalau hal itu tidak bisa dicapai, secepat apa pun chain hanya akan memindahkan “rekonsiliasi” ke dekat sebuah database yang lebih cepat.