Sudah dicoba,
ternyata wawasan warga negara yang bisa menggunakan Twitter memang benar-benar tinggi.

Unitree menguapkan (menghilangkan) 200 miliar dolar. Hari pertama listing naik 629%. 9,78 juta orang ikut bookbuilding. Satu lot bisa untung 470 ribu. Seluruh internet berteriak "perusahaan pertama untuk robot humanoid buatan orang Tiongkok".

Lima hari kemudian. 1100 turun sampai 603.

Di sisi Twitter, pada hari pertama saja tidak ada yang percaya. 20 paten penemuan menopang valuasi 61 miliar. Rasio biaya R&D dalam tiga tahun turun dari 31% menjadi 8%. 74% robotnya dijual ke kampus sebagai alat ajar.

Kamu scroll dua postingan saja di Twitter, langsung tahu seperti apa.
Bahkan, kalau kamu melihat itu di Twitter, kira-kira akan terasa seperti hal yang sudah menjadi pengetahuan umum.

Tapi 9,78 juta investor ritel yang ikut bookbuilding tidak berpikir seperti itu. Yang mereka lihat adalah robot yang beraksi salto di acara Gala Spring Festival, yaitu "orang kaya baru generasi 90-an sudah berganti", yaitu yang di akun media publik tertulis "kebangkitan robot Tiongkok" dengan beberapa baris.

Di Twitter, prospektusnya dari dulu sudah dibedah sampai dasar. Mengenai UBTECH: 2.790 paten dibandingkan dengan Unitree yang 262. Investasi R&D bahkan tidak sebagus LEGO. Kesimpulannya cuma tiga kata: permintaan semu.

Analisis-analisis ini, satu pun tidak bisa kamu lihat di dalam tembok. Kalau saja ada yang bisa meluangkan waktu membacanya, separuh dari 9,78 juta orang itu tidak akan ikut melakukan pendaftaran pembelian tersebut.

Jadi 200 miliar itu menguap.

Kesenjangan informasi pada akhirnya selalu berubah menjadi selisih di akun. Selalu begitu setiap kali.