#dusk $DUSK @Dusk
Kenapa Perusahaan Blockchain Membangun Alat Pengembangan AI?
Jujur saja, ketika pertama kali saya melihat Dusk membangun Pituitary, reaksi pertama saya adalah, “Kenapa perusahaan blockchain peduli dengan hal ini?”
Lalu saya melihat masalah yang ingin dipecahkannya, dan semuanya mulai terasa masuk akal.
Pituitary dibuat untuk menangkap kontradiksi antara spesifikasi, dokumentasi, dan kode. Itu mungkin terdengar seperti masalah kecil bagi pengembang, tapi dalam proyek nyata, saya sudah melihat betapa cepatnya hal ini menjadi berantakan. Satu dokumen mengatakan satu hal, kodenya melakukan hal lain, dan enam bulan kemudian tidak ada yang ingat versi mana yang sebenarnya benar.
AI membuat semuanya menjadi lebih menarik.
Kita makin jago meminta AI untuk menulis kode, tetapi menulis kode bukan lagi bagian tersulit. Bagian yang lebih sulit adalah memastikan AI benar-benar memahami maksud kita. Ia bisa menghasilkan kode yang rapi dan mengesankan, namun tetap benar-benar salah karena mengikuti persyaratan yang sudah usang.
Itulah mengapa Pituitary menarik perhatian saya.
Dusk sudah beroperasi di dunia yang konsistensinya benar-benar penting. Jadi membawa cara berpikir itu ke pengembangan yang dibantu AI terasa sangat natural.
Saya tidak melihat Pituitary sebagai sekadar alat AI lainnya. Saya melihatnya sebagai sebuah taruhan bahwa, di masa depan yang digerakkan oleh AI, menjaga agar perangkat lunak tetap selaras dengan maksud manusia mungkin akan menjadi lebih penting daripada sekadar menulis perangkat lunaknya.
Kenapa Perusahaan Blockchain Membangun Alat Pengembangan AI?
Jujur saja, ketika pertama kali saya melihat Dusk membangun Pituitary, reaksi pertama saya adalah, “Kenapa perusahaan blockchain peduli dengan hal ini?”
Lalu saya melihat masalah yang ingin dipecahkannya, dan semuanya mulai terasa masuk akal.
Pituitary dibuat untuk menangkap kontradiksi antara spesifikasi, dokumentasi, dan kode. Itu mungkin terdengar seperti masalah kecil bagi pengembang, tapi dalam proyek nyata, saya sudah melihat betapa cepatnya hal ini menjadi berantakan. Satu dokumen mengatakan satu hal, kodenya melakukan hal lain, dan enam bulan kemudian tidak ada yang ingat versi mana yang sebenarnya benar.
AI membuat semuanya menjadi lebih menarik.
Kita makin jago meminta AI untuk menulis kode, tetapi menulis kode bukan lagi bagian tersulit. Bagian yang lebih sulit adalah memastikan AI benar-benar memahami maksud kita. Ia bisa menghasilkan kode yang rapi dan mengesankan, namun tetap benar-benar salah karena mengikuti persyaratan yang sudah usang.
Itulah mengapa Pituitary menarik perhatian saya.
Dusk sudah beroperasi di dunia yang konsistensinya benar-benar penting. Jadi membawa cara berpikir itu ke pengembangan yang dibantu AI terasa sangat natural.
Saya tidak melihat Pituitary sebagai sekadar alat AI lainnya. Saya melihatnya sebagai sebuah taruhan bahwa, di masa depan yang digerakkan oleh AI, menjaga agar perangkat lunak tetap selaras dengan maksud manusia mungkin akan menjadi lebih penting daripada sekadar menulis perangkat lunaknya.

