Apa kamu pernah menyadari? Jalur promosi sangat padat
AI berjuang untuk diangkat menjadi karyawan tetap, robot berlatih agar bisa bertugas secara mandiri, sementara pasar saham AS bertugas memberi mereka ucapan selamat lebih dulu. Aku juga sibuk—hanya saja atasanku langsung bukan manusia, melainkan sepotong kaca yang setiap hari menyala ratusan kali
Syaratnya sangat jelas: bangun langsung absen, sarapan tetap online, saat berangkat menyelesaikan putaran pertama “menelan” informasi, lalu sebelum tidur berpatroli lagi ke seluruh dunia. Dia tidak memberi gaji, tapi memiliki data performa yang paling lengkap—tahu pukul berapa aku malas, di video mana aku berhenti, dan tengah malam apa yang kucari masalah yang tak bisa ditulis di laporan akhir tahun
Dulu aku pikir aku adalah bosnya ponsel. Tapi ternyata aku lebih seperti power bank berbentuk manusia. Saat baterainya habis, aku mencari colokan di mana-mana; saat aku tak bersemangat, dia menyuruhku menonton lagi satu hal
Atasan ini tidak pernah memberi perintah dengan suara keras—dia hanya menyalakan titik merah di sudut layar. Titik merahnya kecil, tapi kekuasaannya besar, seperti mengingatkan dunia bahwa baru saja terjadi sesuatu, dan hanya kamu yang dikeluarkan dari grup obrolan. Maka aku pun lembur dengan inisiatif sendiri: buka satu tautan, lalu satu lagi, sampai akhirnya dari berita keuangan aku berpindah tugas hingga menonton video seekor kucing yang melompat dari atas kulkas
Dia juga paham cara memberi motivasi. Orang asing memberi like, dapat satu permen; kalau pesan tak ada yang membalas, harga diri dipotong sedikit; video pendek terus “kena” beruntun, disiapkan sesi “team building” di dalam kepala. Begitu akhirnya aku siap bekerja, perhatianku sudah dipecah jadi dua belas pekerja kontrak sementara—tidak ada yang mau menandatangani kontrak jangka panjang
Saat wawancara akhir tahun, aku memberi nilai rendah untuk diriku sendiri. Banyak informasi yang sudah kulihat, tapi yang benar-benar kuingat tidak banyak; banyak orang sudah kukontak, tapi yang benar-benar kuobrolkan tidak banyak; sudah mengoleksi tak terhitung daftar “nanti dibaca”, “nanti” terus tanpa pernah benar-benar masuk kerja
Target performa tahun depan pun jadi sangat sederhana: saat makan malam, ponsel beristirahat; saat berjalan-jalan, aku yang bekerja; sebelum tidur, satu wajah terakhir kupandangi cermin. Dia tetap bisa jadi alat, tapi tidak lagi merangkap sebagai CEO dalam hidupku
Ponsel tidak memakan kita—dia hanya belajar lapar yang kita rasakan
Kalau sudah sampai di sini
Kamu seharusnya belajar untuk menghargai perhatianmu yang berharga
AI berjuang untuk diangkat menjadi karyawan tetap, robot berlatih agar bisa bertugas secara mandiri, sementara pasar saham AS bertugas memberi mereka ucapan selamat lebih dulu. Aku juga sibuk—hanya saja atasanku langsung bukan manusia, melainkan sepotong kaca yang setiap hari menyala ratusan kali
Syaratnya sangat jelas: bangun langsung absen, sarapan tetap online, saat berangkat menyelesaikan putaran pertama “menelan” informasi, lalu sebelum tidur berpatroli lagi ke seluruh dunia. Dia tidak memberi gaji, tapi memiliki data performa yang paling lengkap—tahu pukul berapa aku malas, di video mana aku berhenti, dan tengah malam apa yang kucari masalah yang tak bisa ditulis di laporan akhir tahun
Dulu aku pikir aku adalah bosnya ponsel. Tapi ternyata aku lebih seperti power bank berbentuk manusia. Saat baterainya habis, aku mencari colokan di mana-mana; saat aku tak bersemangat, dia menyuruhku menonton lagi satu hal
Atasan ini tidak pernah memberi perintah dengan suara keras—dia hanya menyalakan titik merah di sudut layar. Titik merahnya kecil, tapi kekuasaannya besar, seperti mengingatkan dunia bahwa baru saja terjadi sesuatu, dan hanya kamu yang dikeluarkan dari grup obrolan. Maka aku pun lembur dengan inisiatif sendiri: buka satu tautan, lalu satu lagi, sampai akhirnya dari berita keuangan aku berpindah tugas hingga menonton video seekor kucing yang melompat dari atas kulkas
Dia juga paham cara memberi motivasi. Orang asing memberi like, dapat satu permen; kalau pesan tak ada yang membalas, harga diri dipotong sedikit; video pendek terus “kena” beruntun, disiapkan sesi “team building” di dalam kepala. Begitu akhirnya aku siap bekerja, perhatianku sudah dipecah jadi dua belas pekerja kontrak sementara—tidak ada yang mau menandatangani kontrak jangka panjang
Saat wawancara akhir tahun, aku memberi nilai rendah untuk diriku sendiri. Banyak informasi yang sudah kulihat, tapi yang benar-benar kuingat tidak banyak; banyak orang sudah kukontak, tapi yang benar-benar kuobrolkan tidak banyak; sudah mengoleksi tak terhitung daftar “nanti dibaca”, “nanti” terus tanpa pernah benar-benar masuk kerja
Target performa tahun depan pun jadi sangat sederhana: saat makan malam, ponsel beristirahat; saat berjalan-jalan, aku yang bekerja; sebelum tidur, satu wajah terakhir kupandangi cermin. Dia tetap bisa jadi alat, tapi tidak lagi merangkap sebagai CEO dalam hidupku
Ponsel tidak memakan kita—dia hanya belajar lapar yang kita rasakan
Kalau sudah sampai di sini
Kamu seharusnya belajar untuk menghargai perhatianmu yang berharga
