Laporan paruh tahunan Pop Mart $POPMART ini, jika hanya dilihat dari angka sebenarnya tidak rugi: pendapatan 17,173 miliar, naik 23,8% YoY; laba bersih 5,038 miliar, naik 10,1%. Pada kebanyakan perusahaan, ini termasuk cukup terhormat. Tapi kali ini pasar dibuat terlalu lapar—ekspektasinya tidak tercapai, dan begitu beritanya keluar, papan perdagangan langsung berbalik: harga saham turun lebih dari 8% dalam satu hari, dan dari puncak historis sudah terpangkas setengah. Kata "sial" pun tidak berlebihan.
Namun, semakin ditelusuri ke bawah, sinyalnya malah makin membingungkan. Di satu sisi ada suara yang meredakan: Wang Ning sendiri berbicara terus terang, mengakui secara langsung bahwa lonjakan tahun lalu memiliki "faktor keberuntungan"; porsi pendapatan #LABUBU juga terus menurun. Goldman Sachs bahkan lebih blak-blakan, menunjuk "permintaan yang lemah dan persediaan yang tinggi". Di sisi lain, di gerai offline justru nuansanya sepenuhnya kebalikan—produk baru Star Man langsung ludes, harga resale diperdagangkan sampai 13 kali, bahkan setelah Duan Yongping berkeliling toko pun ikut mengomentari, "bisnisnya bagus banget". Laporan keuangan dan gerai, pada akhirnya harus percaya yang mana? Orang yang hanya mengamati memang gampang bingung. #POPmart
Yang menarik, saat Wang Ning mengakui adanya "keberuntungan" sekaligus, ia juga melempar rencana buyback senilai 20–50 miliar. Uang sungguhan dipakai untuk membeli kembali—setidaknya menunjukkan bos punya pegangan, dan sekaligus menjadi semacam penenang bagi pasar.
Tapi dua hal jelas menghadang: pertama, pertumbuhan melambat; kedua, tumpukan persediaan makin tinggi. Yang lebih mematikan adalah era "pasca LABUBU"—setelah keuntungan dari satu IP super habis, apakah bisa membesarkan IP hit berikutnya, itulah penentu sesungguhnya untuk kelanjutan saham ini. Saat ini, Star Man tampaknya seperti sebuah petunjuk.
#泡泡玛特 hari ini harga saham memantul naik 4%, dan ditutup di 155 HKD. Sentimen perlahan membaik. Tapi untuk bisa kembali ke puncak dalam satu tarikan, sepertinya tidak semudah itu.
Namun, semakin ditelusuri ke bawah, sinyalnya malah makin membingungkan. Di satu sisi ada suara yang meredakan: Wang Ning sendiri berbicara terus terang, mengakui secara langsung bahwa lonjakan tahun lalu memiliki "faktor keberuntungan"; porsi pendapatan #LABUBU juga terus menurun. Goldman Sachs bahkan lebih blak-blakan, menunjuk "permintaan yang lemah dan persediaan yang tinggi". Di sisi lain, di gerai offline justru nuansanya sepenuhnya kebalikan—produk baru Star Man langsung ludes, harga resale diperdagangkan sampai 13 kali, bahkan setelah Duan Yongping berkeliling toko pun ikut mengomentari, "bisnisnya bagus banget". Laporan keuangan dan gerai, pada akhirnya harus percaya yang mana? Orang yang hanya mengamati memang gampang bingung. #POPmart
Yang menarik, saat Wang Ning mengakui adanya "keberuntungan" sekaligus, ia juga melempar rencana buyback senilai 20–50 miliar. Uang sungguhan dipakai untuk membeli kembali—setidaknya menunjukkan bos punya pegangan, dan sekaligus menjadi semacam penenang bagi pasar.
Tapi dua hal jelas menghadang: pertama, pertumbuhan melambat; kedua, tumpukan persediaan makin tinggi. Yang lebih mematikan adalah era "pasca LABUBU"—setelah keuntungan dari satu IP super habis, apakah bisa membesarkan IP hit berikutnya, itulah penentu sesungguhnya untuk kelanjutan saham ini. Saat ini, Star Man tampaknya seperti sebuah petunjuk.
#泡泡玛特 hari ini harga saham memantul naik 4%, dan ditutup di 155 HKD. Sentimen perlahan membaik. Tapi untuk bisa kembali ke puncak dalam satu tarikan, sepertinya tidak semudah itu.