Pada bulan April tahun ini, Iran mengumumkan bahwa pihaknya menerima bitcoin, stablecoin yang dipatok ke dolar AS, serta pembayaran dengan renminbi untuk biaya tol pengangkutan minyak yang melintasi Selat Hormuz. Dalam laporan tersebut, Fidelity menyebut ini sebagai tanda munculnya "mekanisme penyelesaian alternatif".
Iran juga membangun sebuah sistem berbasis bitcoin bernama "Hormuz Safe" untuk penyelesaian internasional.
Ini bukan untuk spekulasi mata uang kripto. Ini adalah cara menggunakan BTC untuk menghindari sanksi dolar.
AS menerapkan "isolasi ekonomi paling ketat dalam sejarah" terhadap Iran. Lalu apa respons Iran? Dengan bitcoin.
Sejak serangan udara AS terhadap Iran pada 28 Februari, bitcoin naik 12%, S&P 500 turun 1%, dan emas turun 10%.
Kepala investasi Bitwise mengatakan: bitcoin sedang menjadi instrumen lindung nilai terhadap kekacauan geopolitik, bukan sekadar aset spekulatif yang bergantung pada likuiditas.
Setiap kali sistem dolar menghadapi tantangan, itu adalah peluang bagi BTC untuk menulis ulang narasi.
Apa yang BTC lakukan sekarang persis sama dengan apa yang dilakukan emas pada 1970-an—
di era ketika kepercayaan pada mata uang fiat runtuh, menjadi penyimpan nilai yang tidak bisa disanksi, tidak bisa disita.
Bedanya: emas membutuhkan 10 tahun untuk menyelesaikan narasi itu. BTC mungkin hanya perlu 10 bulan.
Pertanyaan kuncinya bukan "apakah BTC naik"—
melainkan dimensi waktumu: apakah itu mingguan atau tahunan.