META BISA DIPAKSAHKAN UNTUK MEMBAHWAH SISTEM MEDIA SOSIAL SEPERTI YANG KITA KETAHUI
Meta mengatakan perusahaan itu bisa menghadapi kerugian hingga $1,2 TRILIUN dalam sidang media sosial di California.
Namun uang mungkin bukan bagian yang paling mengerikan.
Negara bagian meminta pengadilan untuk memaksa Meta menghapus fitur desain yang mereka nilai secara sengaja bersifat adiktif — termasuk infinite scrolling, autoplay, konten yang menghilang seperti Instagram Stories, filter kecantikan, dan umpan yang digerakkan oleh algoritma.
Kenapa?
Karena tuduhannya sangat sederhana dan kejam:
Bikin pengguna tetap ketagihan. Bikin mereka terus menggulir. Bikin mereka terus menonton. Kumpulkan data mereka. Jual perhatian mereka.
Jaksa penuntut California berpendapat Meta mengutamakan keuntungan ketimbang keselamatan anak dan menyembunyikan apa yang mereka ketahui tentang pengguna di bawah 13 tahun.
Dan ini bisa menjadi jauh lebih besar dari Meta.
Jaksa Agung California Rob Bonta sudah memperingatkan bahwa Meta hanyalah “orang pertama yang berdiri dalam antrean.”
YouTube dan Snap juga menghadapi gugatan terkait dugaan dampak buruk yang terkait dengan penggunaan media sosial.
Artinya, satu putusan yang tidak menguntungkan terhadap Meta bisa berubah menjadi cetak biru hukum bagi seluruh industri.
Dan konsekuensinya bisa sangat besar.
Tak ada lagi umpan tanpa akhir yang didesain agar jempol Anda terus bergerak.
Tak ada lagi autoplay yang menyeret Anda ke video berikutnya.
Tak ada lagi konten yang menghilang dan direkayasa untuk menciptakan rasa takut ketinggalan (FOMO) yang konstan.
Bisa jadi Instagram yang benar-benar berbeda.
Bisa jadi Facebook yang benar-benar berbeda.
Dan pada akhirnya, bisa jadi industri media sosial yang benar-benar berbeda.
Analis membandingkan situasinya dengan perhitungan hukum yang menimpa Big Tobacco pada era 1990-an.
Perbandingan itu sungguh serius.
Karena jika pengadilan menetapkan bahwa desain platform tertentu dapat secara hukum diperlakukan sebagai berbahaya bagi anak di bawah umur, maka setiap perusahaan media sosial besar tiba-tiba punya target di punggungnya.
Dan Meta sudah punya masalah lain.
Pada bulan Maret, Meta dan YouTube dinyatakan bertanggung jawab dalam sebuah persidangan besar di Los Angeles yang melibatkan seorang perempuan muda yang mengatakan dia menjadi kecanduan platform mereka saat masih kecil dan mengalami dismorfia tubuh yang parah, depresi, serta pikiran untuk bunuh diri.
$BTC
Meta mengatakan perusahaan itu bisa menghadapi kerugian hingga $1,2 TRILIUN dalam sidang media sosial di California.
Namun uang mungkin bukan bagian yang paling mengerikan.
Negara bagian meminta pengadilan untuk memaksa Meta menghapus fitur desain yang mereka nilai secara sengaja bersifat adiktif — termasuk infinite scrolling, autoplay, konten yang menghilang seperti Instagram Stories, filter kecantikan, dan umpan yang digerakkan oleh algoritma.
Kenapa?
Karena tuduhannya sangat sederhana dan kejam:
Bikin pengguna tetap ketagihan. Bikin mereka terus menggulir. Bikin mereka terus menonton. Kumpulkan data mereka. Jual perhatian mereka.
Jaksa penuntut California berpendapat Meta mengutamakan keuntungan ketimbang keselamatan anak dan menyembunyikan apa yang mereka ketahui tentang pengguna di bawah 13 tahun.
Dan ini bisa menjadi jauh lebih besar dari Meta.
Jaksa Agung California Rob Bonta sudah memperingatkan bahwa Meta hanyalah “orang pertama yang berdiri dalam antrean.”
YouTube dan Snap juga menghadapi gugatan terkait dugaan dampak buruk yang terkait dengan penggunaan media sosial.
Artinya, satu putusan yang tidak menguntungkan terhadap Meta bisa berubah menjadi cetak biru hukum bagi seluruh industri.
Dan konsekuensinya bisa sangat besar.
Tak ada lagi umpan tanpa akhir yang didesain agar jempol Anda terus bergerak.
Tak ada lagi autoplay yang menyeret Anda ke video berikutnya.
Tak ada lagi konten yang menghilang dan direkayasa untuk menciptakan rasa takut ketinggalan (FOMO) yang konstan.
Bisa jadi Instagram yang benar-benar berbeda.
Bisa jadi Facebook yang benar-benar berbeda.
Dan pada akhirnya, bisa jadi industri media sosial yang benar-benar berbeda.
Analis membandingkan situasinya dengan perhitungan hukum yang menimpa Big Tobacco pada era 1990-an.
Perbandingan itu sungguh serius.
Karena jika pengadilan menetapkan bahwa desain platform tertentu dapat secara hukum diperlakukan sebagai berbahaya bagi anak di bawah umur, maka setiap perusahaan media sosial besar tiba-tiba punya target di punggungnya.
Dan Meta sudah punya masalah lain.
Pada bulan Maret, Meta dan YouTube dinyatakan bertanggung jawab dalam sebuah persidangan besar di Los Angeles yang melibatkan seorang perempuan muda yang mengatakan dia menjadi kecanduan platform mereka saat masih kecil dan mengalami dismorfia tubuh yang parah, depresi, serta pikiran untuk bunuh diri.
$BTC

