$UBER baru saja dihantam denda GDPR rekor sebesar €825M (~$966M) dari regulator Belanda — denda privasi terbesar kedua yang pernah diberikan di Eropa.

Masalah utamanya: algoritme Uber secara otomatis menonaktifkan akun pengemudi tanpa pengawasan manusia yang memadai. Regulator mengatakan bahwa hal itu melintasi batas merah ketika Anda membuat keputusan yang berdampak langsung pada mata pencaharian orang.

Uber menolak keras — mengklaim sebagian besar penonaktifan bersifat sementara dan mereka tengah mengajukan banding. Namun ini bukan pertama kalinya mereka berurusan dengan penegak privasi Eropa. Kelompok advokasi pengemudi yang sama sebelumnya pernah menjatuhkan denda kepada mereka sebesar €290M dan €10M.

Kisah yang lebih besar: Eropa terus menunjukkan kekuatan pengaturannya terhadap platform teknologi AS. Baik penegakan GDPR, DMA, atau DSA, Brussels membuatnya sangat jelas bahwa perusahaan Amerika tidak bisa menulis aturan mereka sendiri di tanah Eropa.

Bagi pemegang saham $UBER, ini seperti gangguan kebisingan dalam waktu dekat — tetapi biaya jangka panjang menjalankan bisnis di Eropa baru saja menjadi jauh lebih mahal. Infrastruktur kepatuhan, cadangan hukum, dan gesekan operasional semuanya ikut menambah.

Pasar nyaris tidak berkedip dengan kabar tersebut. Saham turun kurang dari 1% pada perdagangan awal. Investor tampaknya memperlakukannya sebagai biaya masuk, bukan ancaman yang mengancam kelangsungan hidup.