Baru-baru ini saya melihat ada developer yang memakai AI untuk memindai repositori kode $BTC , dengan tujuan menemukan celah sebelum penyerang. Jujur saja, itu membuat saya agak waspada. AI memang menurunkan ambang batas untuk mencari kerentanan: dulu perlu andalkan pakar keamanan senior yang meninjau berbulan-bulan, sekarang cukup jalankan modelnya sekali, dan dalam beberapa jam bisa menyaring poin-poin yang mencurigakan. Masalahnya, penyerang juga bisa memakai alat yang sama—artinya senjata diberikan kepada lebih banyak orang. Tapi di sisi lain, pihak bertahan juga bisa memakai AI untuk menambal celah, sehingga permainan kejar-kejaran kucing dan tikus ini ikut dipercepat secara keseluruhan. Penilaian saya: ekosistem BTC sedang memasuki fase peningkatan duel serang-balik, sehingga kekhawatiran keamanan dalam jangka pendek bisa memperbesar volatilitas. Namun untuk jangka panjang, selama kecepatan perbaikan bisa mengikuti, justru itu hal yang baik. Saya sendiri akan tetap memegang BTC, tetapi akan lebih memperhatikan kecepatan respons para developer—karena keamanan kode adalah fondasinya. Perangkat lunak tradisional juga pernah melewati tahap serupa, hanya saja BTC mengurus uang secara langsung, sehingga tingkat toleransi kesalahannya lebih rendah: saat ada celah yang dieksploitasi, yang bisa hilang bukan sekadar data, melainkan uang tunai sungguhan. Ke depannya, bahkan saya akan menganggap bahwa sebelum kode digabung (merge), menjalankan audit berbasis AI akan menjadi kebiasaan; tentu saja AI juga bisa salah deteksi, jadi pada akhirnya tetap perlu keputusan dari manusia. Jika pihak bertahan terlihat jelas tertinggal dari ritme serangan, saya akan meninjau kembali posisi kepemilikan saya.
