Semakin aku menyelidiki Dusk, semakin aku menyadari bahwa tokenisasi itu sendiri mungkin bukan masalah terbesar.
Menaruh aset dunia nyata di blockchain terdengar seperti bagian yang paling menarik. Tapi bagaimana jika seseorang benar-benar ingin memperdagangkan aset tersebut?
Di sinilah semuanya menjadi rumit.
Jika itu adalah sekuritas yang teregulasi, pembeli mungkin perlu memenuhi persyaratan tertentu. Transfer harus mengikuti aturan yang spesifik. Beberapa informasi harus terlihat, sementara detail lainnya harus tetap privat. Dan setelah kepemilikan berpindah, pembayaran dan penyelesaian (settlement) tetap harus berjalan dengan benar.
Hal ini membuatku melihat Dusk dari sudut pandang yang berbeda.
Alih-alih menganggapnya semata-mata sebagai jaringan untuk sekuritas yang ditokenisasi, aku mulai memikirkannya sebagai infrastruktur untuk alur kerja yang terjadi setelah tokenisasi.
Kelayakan, pembatasan transfer, privasi, pengungkapan, dan settlement semuanya perlu bekerja bersama. Jika tidak, kamu bisa saja memiliki aset yang sudah ter-tokenisasi dengan sempurna, tetapi proses keuangan di sekelilingnya tetap terpecah di berbagai sistem.
Pendekatan privasi sangat menarik bagiku. Pasar yang teregulasi memerlukan verifikasi dan transparansi, tetapi itu tidak berarti posisi keuangan semua orang harus terlihat. Kombinasi Dusk antara transaksi transparan dan yang disamarkan (shielded), dengan pengungkapan selektif, mencoba mencari titik tengah tersebut.
Tentu saja, masih ada risiko terkait identitas, logika kepatuhan (compliance), smart contract, data, dan settlement.
Jadi, pertanyaan besar Dusk bagiku bukan apakah aset yang teregulasi bisa ditempatkan di blockchain.
Melainkan apakah seluruh alur kerja finansial di sekitarnya benar-benar bisa berjalan di blockchain.
Es topic se related infographic image bana do background colour white pepar style
#dusk $DUSK @Dusk
@Dusk
#USThreeMajorIndexesPostWeeklyLosses #USDollarFallsToThreeMonthLow #GrayscaleFilesFifthZECETFAmendment
Menaruh aset dunia nyata di blockchain terdengar seperti bagian yang paling menarik. Tapi bagaimana jika seseorang benar-benar ingin memperdagangkan aset tersebut?
Di sinilah semuanya menjadi rumit.
Jika itu adalah sekuritas yang teregulasi, pembeli mungkin perlu memenuhi persyaratan tertentu. Transfer harus mengikuti aturan yang spesifik. Beberapa informasi harus terlihat, sementara detail lainnya harus tetap privat. Dan setelah kepemilikan berpindah, pembayaran dan penyelesaian (settlement) tetap harus berjalan dengan benar.
Hal ini membuatku melihat Dusk dari sudut pandang yang berbeda.
Alih-alih menganggapnya semata-mata sebagai jaringan untuk sekuritas yang ditokenisasi, aku mulai memikirkannya sebagai infrastruktur untuk alur kerja yang terjadi setelah tokenisasi.
Kelayakan, pembatasan transfer, privasi, pengungkapan, dan settlement semuanya perlu bekerja bersama. Jika tidak, kamu bisa saja memiliki aset yang sudah ter-tokenisasi dengan sempurna, tetapi proses keuangan di sekelilingnya tetap terpecah di berbagai sistem.
Pendekatan privasi sangat menarik bagiku. Pasar yang teregulasi memerlukan verifikasi dan transparansi, tetapi itu tidak berarti posisi keuangan semua orang harus terlihat. Kombinasi Dusk antara transaksi transparan dan yang disamarkan (shielded), dengan pengungkapan selektif, mencoba mencari titik tengah tersebut.
Tentu saja, masih ada risiko terkait identitas, logika kepatuhan (compliance), smart contract, data, dan settlement.
Jadi, pertanyaan besar Dusk bagiku bukan apakah aset yang teregulasi bisa ditempatkan di blockchain.
Melainkan apakah seluruh alur kerja finansial di sekitarnya benar-benar bisa berjalan di blockchain.
Es topic se related infographic image bana do background colour white pepar style
#dusk $DUSK @Dusk
@Dusk
#USThreeMajorIndexesPostWeeklyLosses #USDollarFallsToThreeMonthLow #GrayscaleFilesFifthZECETFAmendment

