【Dia pindah, dan hatiku terasa kosong—tapi kali ini aku harus menahan diri untuk tidak ikut campur】
Dulu aku memberinya sebuah rumah kosong seluas 220 meter persegi,
untuk adikku yang baru lulus tinggal.
Dia perlu menggunakan garasi mobil, dan di sana juga masih ada satu mobil lain yang tidak terpakai.
Kupikir dengan membantunya melewati tekanan masa sewa setelah lulus, semuanya akan baik-baik saja.
Ternyata uang yang seharusnya dipakai untuk sewa rumah💰
malah dia habiskan untuk jatuh cinta.
Dia terlalu terbawa perasaan, sampai pria itu menipunya,
dan bahkan pria itu melakukan penarikan balik dari pinjaman online tertentu—meminta kembali uangnya.
Aku jadi sedikit menyalahkan diri sendiri.
Kupikir ini semua terjadi karena aku.
Aku seharusnya memberi dia cukup tekanan, supaya dia bisa bertumbuh.
Aku yang memelihara si “manja yang belum matang”.
Setiap langkah pertumbuhan manusia harus bersandar pada diri sendiri.
Aku tidak seharusnya memberinya sesuatu yang pada usia itu belum layak dia miliki,
itu karena aku tidak memperhatikan batas.
Aku lebih dulu memberi dia waktu tiga bulan untuk bersiap-siap,
agar dia bisa mencari tempat tinggal di dalam kemampuan ekonominya sendiri.
Dia hanya diam-diam tidak banyak bicara,
tapi sepertinya dia juga sudah memutuskan sesuatu.
Beberapa hari kemudian, saat aku naik untuk membuka pintu, rumah itu sudah kosong.
Walau hatiku juga ikut terasa kosong entah kenapa,
aku tahu kadang-kadang, cinta itu adalah melepas.
Aku juga tidak mengejarnya untuk menanyakan dia pergi ke mana……Tidak tanya, tidak menjawab, tidak memohon bantuan, tidak mengganti-dengan yang lain, tidak memberikan.
Seharusnya itu menjadi pengingat yang selalu kutahan di pikiranku.
Dulu aku memberinya sebuah rumah kosong seluas 220 meter persegi,
untuk adikku yang baru lulus tinggal.
Dia perlu menggunakan garasi mobil, dan di sana juga masih ada satu mobil lain yang tidak terpakai.
Kupikir dengan membantunya melewati tekanan masa sewa setelah lulus, semuanya akan baik-baik saja.
Ternyata uang yang seharusnya dipakai untuk sewa rumah💰
malah dia habiskan untuk jatuh cinta.
Dia terlalu terbawa perasaan, sampai pria itu menipunya,
dan bahkan pria itu melakukan penarikan balik dari pinjaman online tertentu—meminta kembali uangnya.
Aku jadi sedikit menyalahkan diri sendiri.
Kupikir ini semua terjadi karena aku.
Aku seharusnya memberi dia cukup tekanan, supaya dia bisa bertumbuh.
Aku yang memelihara si “manja yang belum matang”.
Setiap langkah pertumbuhan manusia harus bersandar pada diri sendiri.
Aku tidak seharusnya memberinya sesuatu yang pada usia itu belum layak dia miliki,
itu karena aku tidak memperhatikan batas.
Aku lebih dulu memberi dia waktu tiga bulan untuk bersiap-siap,
agar dia bisa mencari tempat tinggal di dalam kemampuan ekonominya sendiri.
Dia hanya diam-diam tidak banyak bicara,
tapi sepertinya dia juga sudah memutuskan sesuatu.
Beberapa hari kemudian, saat aku naik untuk membuka pintu, rumah itu sudah kosong.
Walau hatiku juga ikut terasa kosong entah kenapa,
aku tahu kadang-kadang, cinta itu adalah melepas.
Aku juga tidak mengejarnya untuk menanyakan dia pergi ke mana……Tidak tanya, tidak menjawab, tidak memohon bantuan, tidak mengganti-dengan yang lain, tidak memberikan.
Seharusnya itu menjadi pengingat yang selalu kutahan di pikiranku.