FT:Tekanan ekonomi era Trump meningkat, harga minyak dan suku bunga kredit rumah naik bersamaan, utang AS menembus 40 triliun dolar
Pada 22 Agustus, surat kabar Financial Times menulis bahwa kebijakan ekonomi pemerintahan Trump menghadapi berbagai tekanan: utang federal AS menembus 40 triliun dolar, imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang naik ke level tertinggi dalam 19 tahun, perang Iran meningkatkan harga energi, dan suku bunga KPR terus merangkak naik. Minggu ini, pasar obligasi pemerintah jangka panjang AS mengalami volatilitas yang tajam. Investor mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang karena khawatir pembesaran skala pinjaman pemerintah serta risiko inflasi akibat perang. Menkeu AS Besent kemudian mengumumkan perluasan program penarikan kembali (repurchase) obligasi pemerintah jangka panjang, serta berencana meluncurkan langkah-langkah untuk memangkas defisit fiskal, tetapi respons pasar terbatas; dolar justru melemah. Data menunjukkan bahwa skala utang pemerintah AS untuk pertama kalinya menembus 40 triliun dolar minggu ini, dengan laju pertumbuhan belanja federal menjadi yang tercepat sejak masa pandemi. Defisit fiskal AS pada tahun fiskal 2025 terhadap PDB hanya turun sedikit menjadi 5,8%, sementara kebijakan pemotongan pajak Trump diperkirakan akan menambah tekanan fiskal di masa depan. Dari sisi energi, konflik AS-Iran mendorong harga bahan bakar di AS. Harga bensin naik sekitar 40% dibanding sebelum pecahnya perang, mencapai 4,11 dolar AS per galon; harga solar naik hingga 5,58 dolar AS per galon. Kenaikan biaya energi melemahkan target kebijakan Trump sebelumnya untuk menurunkan biaya hidup dan harga energi. Pasar perumahan juga tertekan: suku bunga hipotek 30 tahun AS naik menjadi 6,65%, lebih tinggi daripada sebelum pecahnya perang yang sebesar 5,98%. Sementara itu, inflasi konsumen AS pada bulan Mei sempat meningkat hingga level tertinggi dalam tiga tahun, 4,2%, lalu turun ke 3,4% pada bulan Juli, namun pejabat The Fed tetap khawatir tekanan inflasi akan terus berlanjut. Meskipun ekonomi AS masih didukung oleh belanja konsumen dan investasi infrastruktur AI dari perusahaan teknologi besar, laju pertumbuhannya lebih rendah dari target yang sebelumnya ditetapkan pemerintah. Pada kuartal II tahun 2026, pertumbuhan PDB AS secara year-on-year (annualized) sekitar 1,5%, lebih rendah dari ekspektasi pertumbuhan di atas 3% yang sebelumnya diajukan. Pelaku pasar menilai tingginya utang, tingginya biaya pendanaan, serta kenaikan harga energi sedang menggerus kepercayaan konsumen dan mungkin menjadi tekanan politik penting yang dihadapi pemerintahan Trump. Besent menyatakan, AS masih memiliki peluang untuk memperbaiki kondisi fiskal melalui pertumbuhan ekonomi.