Dulu saya mengelola dana di chain dengan cara yang agak kasar: dana yang siap saya pakai untuk membidik harga rendah (buy the dip) saya taruh di stablecoin, sementara dana yang sementara tidak terpakai saya masukkan ke pool yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Saat benar-benar perlu digunakan, baru semuanya saya tarik keluar.
Belakangan saya sadar, masalah terbesar bukanlah imbal hasil yang rendah, melainkan kenyataan bahwa semua uang tercampur jadi satu. Minggu depan mungkin saya butuh 5000U, dan saya juga punya 5000U yang dalam setengah tahun ke depan tidak akan tersentuh—kegunaannya jelas berbeda, tapi seringnya saya taruh di tempat yang sama dan mendapatkan APY yang sama.
Belakangan setelah melihat @TermMax , saya justru mulai merasa produk fixed-term (periode tetap) adalah salah satu hal paling tepat untuk dilakukan: “memilah” dana.
Misalnya, sisakan sebagian USDC untuk menghadapi volatilitas kapan saja. Bagian ini tidak mengejar imbal hasil—yang utama likuiditas. Sisanya, jika sudah pasti tiga bulan ke depan tidak akan dipakai, Anda bisa mencocokkannya dengan tenor yang sesuai. Untuk dana yang lebih jangka panjang, baru pertimbangkan tenor yang lebih lama dan imbal hasilnya.
Jadi bukan mencari satu pool yang bisa menampung semua uang, melainkan membiarkan tiap bagian uang menjalankan tugasnya masing-masing.
Ini sebenarnya cukup jauh berbeda dari cara berpikir yang hanya mengejar APY setinggi mungkin. Dulu ketika melihat sebuah pool imbal hasil naik dari 5% menjadi 10%, respons pertama saya mungkin langsung memindahkan dana. Sekarang saya lebih suka bertanya dulu pada diri sendiri: kapan uang ini akan dipakai? Jika dalam dua minggu saya mungkin menambah posisi (menambah buy), maka imbal hasil 90 hari yang setinggi apa pun tidak terlalu berarti bagi saya.
Jadi menurut saya, perubahan yang dibawa pasar fixed-term seperti @TermMax mungkin bukan hanya soal suku bunga, melainkan cara mengelola dana. Begitu tenor ditetapkan, tugas tiap potongan dana juga ikut menjadi jelas. Dana jangka pendek bertugas menjaga likuiditas; dana jangka menengah untuk memastikan imbal hasil; dan dana jangka panjang untuk menanggung opportunity cost dalam waktu yang lebih lama.
Tentu saja, cara ini juga bukan berarti memotong dana menjadi terlalu banyak bagian. Jika salah menilai tenornya, atau tiba-tiba butuh dana di tengah jalan, menarik lebih awal tetap bisa menghadapi risiko potongan (discount) dan masalah likuiditas. Jadi yang paling penting tetap: dulu pahami kapan Anda butuh uang itu, baru putuskan harus ditempatkan di mana.
Dulu saat bermain DeFi, saya selalu memikirkan satu hal: bisakah uang saya bisa menghasilkan beberapa persen lagi?
Sekarang saya merasa perlu bertanya satu hal lagi:
uang ini ke depan sebenarnya akan dipakai untuk apa?
Kalau bahkan tujuan dan waktunya saja belum jelas, APY setinggi apa pun mungkin hanya akan membuat semua dana Anda dimasukkan ke satu keranjang yang sama.
#TermMax
Belakangan saya sadar, masalah terbesar bukanlah imbal hasil yang rendah, melainkan kenyataan bahwa semua uang tercampur jadi satu. Minggu depan mungkin saya butuh 5000U, dan saya juga punya 5000U yang dalam setengah tahun ke depan tidak akan tersentuh—kegunaannya jelas berbeda, tapi seringnya saya taruh di tempat yang sama dan mendapatkan APY yang sama.
Belakangan setelah melihat @TermMax , saya justru mulai merasa produk fixed-term (periode tetap) adalah salah satu hal paling tepat untuk dilakukan: “memilah” dana.
Misalnya, sisakan sebagian USDC untuk menghadapi volatilitas kapan saja. Bagian ini tidak mengejar imbal hasil—yang utama likuiditas. Sisanya, jika sudah pasti tiga bulan ke depan tidak akan dipakai, Anda bisa mencocokkannya dengan tenor yang sesuai. Untuk dana yang lebih jangka panjang, baru pertimbangkan tenor yang lebih lama dan imbal hasilnya.
Jadi bukan mencari satu pool yang bisa menampung semua uang, melainkan membiarkan tiap bagian uang menjalankan tugasnya masing-masing.
Ini sebenarnya cukup jauh berbeda dari cara berpikir yang hanya mengejar APY setinggi mungkin. Dulu ketika melihat sebuah pool imbal hasil naik dari 5% menjadi 10%, respons pertama saya mungkin langsung memindahkan dana. Sekarang saya lebih suka bertanya dulu pada diri sendiri: kapan uang ini akan dipakai? Jika dalam dua minggu saya mungkin menambah posisi (menambah buy), maka imbal hasil 90 hari yang setinggi apa pun tidak terlalu berarti bagi saya.
Jadi menurut saya, perubahan yang dibawa pasar fixed-term seperti @TermMax mungkin bukan hanya soal suku bunga, melainkan cara mengelola dana. Begitu tenor ditetapkan, tugas tiap potongan dana juga ikut menjadi jelas. Dana jangka pendek bertugas menjaga likuiditas; dana jangka menengah untuk memastikan imbal hasil; dan dana jangka panjang untuk menanggung opportunity cost dalam waktu yang lebih lama.
Tentu saja, cara ini juga bukan berarti memotong dana menjadi terlalu banyak bagian. Jika salah menilai tenornya, atau tiba-tiba butuh dana di tengah jalan, menarik lebih awal tetap bisa menghadapi risiko potongan (discount) dan masalah likuiditas. Jadi yang paling penting tetap: dulu pahami kapan Anda butuh uang itu, baru putuskan harus ditempatkan di mana.
Dulu saat bermain DeFi, saya selalu memikirkan satu hal: bisakah uang saya bisa menghasilkan beberapa persen lagi?
Sekarang saya merasa perlu bertanya satu hal lagi:
uang ini ke depan sebenarnya akan dipakai untuk apa?
Kalau bahkan tujuan dan waktunya saja belum jelas, APY setinggi apa pun mungkin hanya akan membuat semua dana Anda dimasukkan ke satu keranjang yang sama.
#TermMax
