Aku tahu..... aku menduga privasi di sini terutama tentang menyembunyikan detail transaksi. Tapi semakin aku menelusuri masalahnya, semakin tidak sederhana rasanya.

Bank, bursa, dan kustodian tetap perlu memverifikasi transaksi. Bagian itu tidak bisa begitu saja menghilang hanya karena data keuangan bersifat sensitif. Pertanyaan yang tidak nyaman adalah: pihak-pihak tersebut tepatnya perlu melihat apa agar verifikasi bisa dilakukan.

Di sinilah selective disclosure (pengungkapan selektif) menarik perhatianku.

Aku terus kembali pada gagasan bahwa verifikasi tidak harus berarti mengekspos semuanya. Jika pihak yang disetujui bisa memverifikasi apa yang diperlukan sementara yang lainnya tetap rahasia, maka prosesnya mulai terlihat kurang seperti pilihan serba-ya atau serba-tidak.

Awalnya kupikir privasi dan verifikasi mungkin secara alami saling bertentangan. Yang satu meminta paparan yang lebih sedikit, sementara yang lain tampaknya memerlukan informasi..... Namun pengungkapan selektif membuat asumsi itu lebih sulit untuk dipertahankan.

Bagian yang menarik bukan sekadar bahwa data bisa tetap rahasia. Yang penting adalah pemisahan antara apa yang seseorang perlu verifikasi dan semua hal yang tidak perlu dia ketahui.

Pembedaan itu terasa penting karena informasi keuangan bukan sekadar potongan data lain. Namun informasi yang diberikan di sini membuatku berpikir tentang sesuatu yang lebih spesifik: seberapa banyak visibilitas yang sebenarnya diperlukan untuk membangun kepercayaan antara institusi dan nasabahnya?

Mungkin pertanyaan sebenarnya bukan apakah verifikasi bisa terjadi secara pribadi, tetapi di mana batas yang seharusnya ditetapkan antara membuktikan cukup dan mengungkap terlalu banyak. Aku masih memikirkan di mana garis itu seharusnya berada—nanti juga akan terlihat dengan waktu 🤔.
#dusk $DUSK @Dusk