#termmax @TermMax
Dulu, aku cukup terbiasa dengan model pinjaman di protokol lending: menjaminkan ETH, menerima USDT, lalu memantau perubahan suku bunga setiap hari. Saat suku bunga rendah, semuanya terasa cukup oke, tapi setiap kali pasar bergejolak, aku harus memastikan apakah biaya pinjaman ikut naik.
Suatu kali, aku membutuhkan dana sebesar 1000 USDT untuk kebutuhan modal jangka pendek, tapi aku tidak ingin menjual ETH dan obligasi yang sedang aku pegang. Aku mencoba TermMax—dengan menjaminkan ETH dan obligasi—untuk meminjam USDT dengan tenor dan tingkat bunga yang ditetapkan sejak awal sebesar 3,2% per tahun.
Hal yang paling aku suka adalah rasanya cukup mudah dihitung. Sebelum mengonfirmasi pinjaman, aku sudah tahu berapa banyak yang akan aku pinjam, berapa lama tenornya, dan pada tanggal jatuh tempo harus membayar berapa. Jadi tidak perlu membuka aplikasi setiap hari hanya untuk mengecek apakah suku bunga pinjaman sudah berubah.
Awalnya aku mengira perbedaannya tidak terlalu besar. Tapi setelah beberapa waktu, baru terasa bahwa suku bunga tetap punya nilai paling besar ketika pasar mulai berfluktuasi. Jika suku bunga lending meningkat tajam, peminjam bisa menanggung biaya tambahan di luar perkiraan. Sedangkan untuk pinjaman di TermMax, porsi biaya sudah dikunci sejak awal, sehingga pengelolaan dana jadi lebih mudah.
Tentu saja, aku tetap perlu memantau harga ETH dan risiko likuidasi. Suku bunga tetap bukan berarti pinjaman tidak memiliki risiko.
Namun pengalaman ini membuatku memandang lending DeFi sedikit berbeda: kadang yang aku butuhkan bukanlah suku bunga terendah, melainkan kepastian tentang jumlah pasti yang harus aku bayar.