Berakhir sudah. BTC 76k, semua posisi long-short ditutup.
Kerugian kali ini 1,67 juta, keuntungan tiga bulan hilang dalam satu malam.
Tidak ada yang bisa diperdebatkan. Perekaman ulang (review) dilakukan agar tidak mengulangi kesalahan.
Lima pelajaran berlumuran darah:
❶ Stop loss adalah garis hidup, bukan sekadar saran.
Balik kampung setengah bulan, mental jadi lengah, order stop loss tidak pernah dipasang lagi. Begitu disiplin kendur, pasar akan mengajarimu cara berpikir yang benar.
❷ Kurang rasa hormat terhadap pasar.
Dalam pikiran yang sudah mengakar, hanya posisi long yang harus dipasang stop loss dengan ketat, sedangkan short “tidak akan turun terlalu cepat”. Akibatnya, satu candle bullish menarik langsung, orangnya langsung linglung. Pasar mengobati semua yang merasa tidak sesuai.
❸ Biaya dari ragu adalah kerugian berlipat.
Saat ETH menembus 1995, tangan sudah menyentuh tombol stop loss. Tapi ukuran posisi terlalu besar, tidak tega. Ragu tiga detik, jurangnya sedalam itulah. Emosi adalah musuh terbesar trader.
❹ Aturan ditulis di atas kertas, eksekusinya tertanam di tulang.
BTC mengalami pullback ke 68k, 69k; indikator teknis jelas menunjukkan bullish, level stop loss juga jelas. Namun emosi tidak stabil. Terlintas kembali aturan yang sudah ditetapkan: “kalau emosi tidak stabil, jangan buka posisi”. Akhirnya kesempatan berubah menjadi jebakan. Kemarin terpaksa membuka lindung nilai (hedge), makin terperosok.
❺ Keuntungan yang belum “dipindahkan” bukanlah milikmu, hanya angka di layar.
Beberapa bulan terakhir compounding berjalan, tapi lupa memindahkan keuntungan secara berkala keluar dari kontrak. Kalau keuntungan disimpan di cold wallet, kerugian minimal bisa berkurang setengah. Compounding itu malaikat, keserakahan itu iblis.
❻ Memaksa diri mengubah ritme justru membuat feeling hilang.
Demi “bertransaksi mengikuti tren”, maka transaksi dibuat mengikuti tren; jadinya canggung, ritme berantakan. Strategi yang cocok dengan diri sendiri adalah yang terbaik.
Berikutnya, istirahat beberapa hari.
Terima kasih kepada rekan-rekan yang ikut jejak (copy trade) atas kepercayaan kalian. Maaf membuat kalian ikut menanggung kerugian ini.
“Tidak memperebutkan arus yang pertama, yang dikejar adalah aliran yang tak henti.”
Kalimat ini selalu kuucapkan pada diriku sendiri. Sekarang, nol, restart, lalu berangkat lagi.
Kerugian kali ini 1,67 juta, keuntungan tiga bulan hilang dalam satu malam.
Tidak ada yang bisa diperdebatkan. Perekaman ulang (review) dilakukan agar tidak mengulangi kesalahan.
Lima pelajaran berlumuran darah:
❶ Stop loss adalah garis hidup, bukan sekadar saran.
Balik kampung setengah bulan, mental jadi lengah, order stop loss tidak pernah dipasang lagi. Begitu disiplin kendur, pasar akan mengajarimu cara berpikir yang benar.
❷ Kurang rasa hormat terhadap pasar.
Dalam pikiran yang sudah mengakar, hanya posisi long yang harus dipasang stop loss dengan ketat, sedangkan short “tidak akan turun terlalu cepat”. Akibatnya, satu candle bullish menarik langsung, orangnya langsung linglung. Pasar mengobati semua yang merasa tidak sesuai.
❸ Biaya dari ragu adalah kerugian berlipat.
Saat ETH menembus 1995, tangan sudah menyentuh tombol stop loss. Tapi ukuran posisi terlalu besar, tidak tega. Ragu tiga detik, jurangnya sedalam itulah. Emosi adalah musuh terbesar trader.
❹ Aturan ditulis di atas kertas, eksekusinya tertanam di tulang.
BTC mengalami pullback ke 68k, 69k; indikator teknis jelas menunjukkan bullish, level stop loss juga jelas. Namun emosi tidak stabil. Terlintas kembali aturan yang sudah ditetapkan: “kalau emosi tidak stabil, jangan buka posisi”. Akhirnya kesempatan berubah menjadi jebakan. Kemarin terpaksa membuka lindung nilai (hedge), makin terperosok.
❺ Keuntungan yang belum “dipindahkan” bukanlah milikmu, hanya angka di layar.
Beberapa bulan terakhir compounding berjalan, tapi lupa memindahkan keuntungan secara berkala keluar dari kontrak. Kalau keuntungan disimpan di cold wallet, kerugian minimal bisa berkurang setengah. Compounding itu malaikat, keserakahan itu iblis.
❻ Memaksa diri mengubah ritme justru membuat feeling hilang.
Demi “bertransaksi mengikuti tren”, maka transaksi dibuat mengikuti tren; jadinya canggung, ritme berantakan. Strategi yang cocok dengan diri sendiri adalah yang terbaik.
Berikutnya, istirahat beberapa hari.
Terima kasih kepada rekan-rekan yang ikut jejak (copy trade) atas kepercayaan kalian. Maaf membuat kalian ikut menanggung kerugian ini.
“Tidak memperebutkan arus yang pertama, yang dikejar adalah aliran yang tak henti.”
Kalimat ini selalu kuucapkan pada diriku sendiri. Sekarang, nol, restart, lalu berangkat lagi.