Seorang teman saya pernah membeli “saham real estat” yang telah “ditokenisasi”. Awalnya dia sangat bersemangat sampai dia sadar bahwa token itu pada dasarnya hanya tanda terima digital yang berada di atas kontrak kertas yang dikelola oleh sebuah perusahaan di luar rantai.

Kalau perusahaan itu mengalami masalah, token itu sendiri tidak menyelesaikan problemnya.
Di situlah saya memahami perbedaan antara membungkus (wrapping) sebuah aset dan benar-benar menerbitkannya di-chain.

Tokenisasi mengambil sesuatu yang sudah ada di luar rantai—misalnya obligasi, saham, atau reksa dana—lalu membuat representasi digitalnya.

Penerbitan asli (native issuance) berbeda. Aset tersebut sejak awal memang dirancang untuk ada di chain, dengan perpindahan kepemilikan dan sebagian dari siklus hidupnya dikelola melalui infrastruktur blockchain, sementara kebutuhan pemenuhan regulasi tetap harus dipatuhi.

Perbedaan itulah yang membuat @Dusk menarik bagi saya.

Kerjanya dengan NPEX, sebuah bursa berlisensi asal Belanda, menunjukkan arah penggunaan infrastruktur pasar yang teregulasi bersama teknologi blockchain, bukan sekadar menempelkan token di atas proses yang sudah ada.

Membungkus sebuah aset relatif mudah.

Membangun ulang cara aset tersebut diterbitkan dan dikelola sejak hari pertama jauh lebih sulit.

Menurut Anda, model mana yang pada akhirnya akan dipercayai institusi untuk modal yang benar-benar nyata?

@Dusk_Foundation $DUSK #dusk