Alamat aktif Bitcoin turun menjadi 545 ribu, mencatat rekor terendah sejak 2018. Namun yang aneh, harga $BTC justru tetap kokoh di kisaran 63.000–65.000 dolar AS. Di on-chain terlihat sepi seperti pasar beruang, mengapa harganya tidak ikut turun?
Di balik itu, ada tiga "sinyal penarikan" yang terjadi secara bersamaan.
**Penyempitan lapisan pertama: aktivitas pengguna kembali ke 7 tahun lalu**
Menurut data CryptoQuant, pada 9 Agustus jumlah alamat aktif Bitcoin turun menjadi 545.233, ini merupakan angka terendah sejak 2018. Alamat aktif (Active Addresses) adalah jumlah alamat unik yang melakukan transaksi dalam 24 jam, dan merupakan indikator inti untuk mengukur keterlibatan pengguna nyata di blockchain.
Kalau rentang waktunya diperpanjang, rata-rata pergerakan sederhana 30 hari dari sekitar 722.000 pada Oktober 2025 terus menurun hingga sekitar 644.000 di awal Agustus, penurunannya lebih dari 10%. Dengan kata lain, setiap hari jumlah "kepala" (akun pengirim transfer) di on-chain berkurang hampir 80.000.
Tapi bagaimana dengan harga? BTC turun dari 125.000 dolar AS pada Oktober menjadi 64.000 dolar AS sekarang—turun hampir 50%—namun dalam dua minggu terakhir justru benar-benar "rebahan" sepenuhnya: berkutat bolak-balik di 63K sampai 65K, amplitudonya kurang dari 3%. Partisipasi ritel turun ke titik beku, tapi harga tidak terus ambruk.
**Penyusutan ketiga: para penambang juga sedang "melepaskan kerugian" lalu kabur**
Per 15 Agustus, posisi kepemilikan (holdings) penambang bitcoin turun menjadi sekitar 1,1919 juta BTC, level terendah sejak 31 Mei tahun ini, dengan pengurangan mingguan sebesar 885 BTC. Kepemilikan penambang (Miner Holdings) mencerminkan total bitcoin yang belum dijual di dompet para penambang; ini adalah indikator kunci untuk mengukur tekanan jual dari penambang.
Yang lebih patut diperhatikan adalah indikator Puell Multiple—nilai saat ini 0,75. Puell Multiple adalah rasio pendapatan harian para penambang (dalam dolar AS) terhadap pendapatan rata-rata 365 hari. Nilai 0,75 berarti pendapatan penambang 25% lebih rendah daripada rata-rata setahun terakhir, berada pada area abu-abu historis: "tertekan profit, tapi belum putus asa".
Artinya apa? Sebagian rig penambang yang efisiensinya lebih rendah sudah mendekati harga untuk dimatikan (shutdown price), sehingga penambang terpaksa menjual persediaan untuk menutup biaya operasional. Analis on-chain memantau bahwa sebuah alamat yang diduga milik penambang dalam akumulasi 20 hari terakhir telah menambahkan (top up) 6.494 BTC ke Binance, dengan harga rata-rata sekitar 64,8 ribu dolar AS—sementara setahun lalu, saat menerima koin ini dari platform institusi, harga rata-ratanya mencapai 116 ribu dolar AS. Turun hampir setengahnya—akhirnya mereka cut loss.
**Penyusutan ketiga: stablecoin "bahan bakar mesiu" terus menyusut**
Gudang amunisi pasar juga ikut menyempit. Sejak pertengahan Mei, total nilai pasar stablecoin yang sempat mencapai puncak sekitar 322 miliar dolar AS telah menguap hampir 15 miliar dolar AS, dan saat ini bertahan di sekitar 302 miliar dolar AS. Di antaranya, nilai pasar USDT turun dari 184,2 miliar dolar AS menjadi 183,1 miliar, USDC dari 73,28 miliar menjadi 72,15 miliar; dalam satu bulan terakhir, total keduanya menyusut sekitar 2,23 miliar dolar AS.
Stablecoin (stablecoin) adalah "ekuivalen kas" di pasar kripto, sehingga perubahan jumlah supply secara langsung mencerminkan kesediaan dana untuk masuk dan keluar. Penyusutan berarti sebagian dana sedang kembali ke fiat dari ekosistem kripto, atau sekadar keluar dan menunggu.
Tiga kali penyusutan berlapis—pengguna lari, penambang menjual, dana ditarik—pada 2022, salah satu saja sudah cukup untuk menjatuhkan BTC dengan garis merah (candle) bearish 10%. Namun di pasar Agustus 2026, mereka malah tetap bertahan melintang di tengah kondisi seperti itu.
**Kebenaran harga yang tidak turun: bukan karena tidak ada yang bermain, tapi karena cara bermainnya berubah**
Kenapa? Jawabannya ada dalam tiga perubahan struktural.
Pertama, long-term holders (LTH) sedang "mengunci" suplai. Proporsi alamat yang menahan lebih dari 155 hari telah naik menjadi 68,2%, mencatat rekor tertinggi sepanjang masa. Semakin tinggi porsi LTH, semakin berarti jumlah "kepingan mengambang" yang bisa diperdagangkan di pasar semakin sedikit—meski aktivitas ritel turun, selama bagian "dead bulls" itu tidak melepas, tekanan jual bisa tetap ditekan secara artifisial.
Kedua, institusionalisasi ETF sedang membentuk ulang jalur arus dana. ETF spot BTC minggu lalu mengalami arus keluar bersih sekitar 390 juta dolar AS, namun #ETH ETF justru relatif menahan dan bahkan mencatat sedikit arus masuk bersih. Ini menunjukkan bahwa dana institusi tidak lagi terutama bergerak melalui dompet on-chain, melainkan melalui kanal ETF dari pialang tradisional. Turunnya aktivitas on-chain belum tentu berarti menurunnya perhatian pasar—hanya saja "medan perang" pindah dari on-chain ke off-chain.
Ketiga, paus raksasa di dalamnya sedang melakukan pergantian kepemilikan secara intensif, bukan hanya menjual satu arah. Data CryptoQuant menunjukkan bahwa indikator selisih antara paus besar dan ritel (giant whale vs retail) pada 16 Agustus kembali naik menjadi 0,407. Dalam volume transaksi paus, persentase pembelian sekitar 47% dan penjualan sekitar 53%, sehingga secara keseluruhan cenderung seimbang. Sementara itu, paus menengah berukuran 10—10.000 BTC sebelumnya menunjukkan tanda akumulasi yang jelas. Di satu sisi, kubu paus lama mendistribusikan; di sisi lain, paus baru menjadi pembeli (take over). Perpindahan kepingan dari "tangan lemah" ke "tangan kuat" itu sendiri tidak akan memicu kejatuhan harga yang parah.
**Akankah sejarah terulang?**
Pada Juli 2018, EMA 30 hari dari alamat aktif Bitcoin sekitar 570.000, lalu naik menjadi 605.000 pada Januari 2019. Setelah itu, BTC memantul dari dasar 3.000 dolar AS ke 13.000 dolar AS. Sejarah memang tidak menjamin terulang, tapi kombinasi "lembah aktivitas + harga mulai stabil" sering menjadi fase khas ketika sentimen pasar beralih dari kepanikan menuju rasa apatis (mati rasa).
Indikator MVRV saat ini juga memberi bukti. MVRV total BTC sekitar 1,22, artinya nilai pasar total adalah 1,22 kali nilai yang telah direalisasi (realized). Pemegang masih berada di keuntungan, tetapi tingkat premium jauh lebih rendah dibanding puncak bull market. Rinciannya lebih jauh: MVRV untuk "pemain menengah" yang memegang 6—12 bulan hanya 0,64, menandakan kelompok investor yang masuk di sekitar level puncak akhir 2025 rata-rata mengalami floating loss sekitar 36%. Jika mereka belum cut loss, sekarang mereka sudah "mati rasa".
**Penutup**
54,5 juta alamat aktif, 1,19 juta BTC kepemilikan penambang, dan nilai pasar stablecoin sebesar 302 miliar—ketiga angka ini memberi tahu kita satu hal yang sama: dunia on-chain sedang menjalani sebuah "likuidasi diam-diam" (silent clearing). Namun fakta harga tidak turun justru menunjukkan bahwa pihak yang menjadi penyerap (buyer) dalam proses likuidasi ini bukan ritel, melainkan institusi dan paus raksasa yang bersedia mengunci aset dalam jangka panjang.
Bagi para trader, ini jauh lebih patut diwaspadai daripada sekadar kenaikan atau penurunan harga. Sebab ketika aktivitas di rantai (on-chain) turun hingga tingkat seperti ini, setiap lonjakan dana tambahan yang tiba-tiba masuk—baik itu arus balik masuk ETF, maupun rilis kabar baik makro—dapat memicu lonjakan ke atas yang agresif (gap) karena kurangnya pihak lawan (counterparties).
Kamu menganggap ini sinyal dasar dari "harga terlihat setelah volume sangat kecil" (地量见地价), atau malah "ketenangan sebelum badai" sebelum "likuiditas mengering"? Yuk bahas di kolom komentar pendapatmu.