Saya dulu selalu mengira urusan suku bunga itu mirip seperti prakiraan cuaca: baru setelah meminjam uang saya tahu rasanya adalah “pasrah menerima”. Lalu saya membuka dokumen TermMax V2, dan ternyata idenya justru dibalik: pihak peminjam bisa memasang “suku bunga maksimum yang sanggup diterima”, pihak pemberi pinjaman bisa memasang “suku bunga minimum yang sanggup diterima”. Kedua belah pihak seperti berangkat ke pasar ramai-ramai berjualan—satu pihak berteriak “maksimum segini!”, pihak lain berteriak “kalau lebih rendah, saya tidak pinjam”. Suku bunga langsung berubah dari sekadar hasil menjadi harga penawaran. Logikanya agak menarik.

Pertama, pisahkan FT dan XT. FT seperti selembar surat utang yang mengembalikan pokok saat jatuh tempo. XT menangkap bagian nilai lainnya; 1 FT + 1 XT membentuk satu unit utang. Setelah dipisah, utang tidak lagi hanya angka di baris kontrak, melainkan sertifikat yang bisa diperdagangkan secara terpisah. V2 menyebarkan Limit Order ke seluruh pasar, lalu Order Aggregator menjalankan pencarian ke berbagai order untuk membantu Anda mendapatkan eksekusi yang lebih menguntungkan. Intinya, ini permainan order book—hanya saja yang diperdagangkan bukan koin/kripto, melainkan “biaya waktu dari uang”.

Tapi jangan buru-buru terpesona. Kekhawatiran saya sangat konkret: order book terlihat canggih, tapi kalau tidak ada yang memasang order, “suku bunga pasar” mungkin hanya ilusi yang “ditumpuk” oleh beberapa puluh ribu rupiah semata, tipis sekali. Kunci biaya dengan suku bunga tetap tidak otomatis berarti mengunci “harga yang adil”. Saya pernah mencoba sebuah aggregator: begitu order dipasang, belasan menit tidak ada yang mengambil. Meski harganya bagus, itu tetap seperti pajangan—saya sangat paham rasa cemas seperti itu.

Jadi sekarang saya mengawasi tiga hal: pertama, apakah suku bunga untuk berbagai tenor bisa tersambung membentuk kurva yang layak, jangan cuma satu titik di sini satu titik di sana—kalau begitu tidak ada bentuknya; kedua, apakah Limit Order dipasang terus-menerus, bukan cuma sesekali ada beberapa transaksi, dan harus ada likuiditas nyata untuk menampung; ketiga, selisih antara harga saat FT ditransaksikan dan suku bunga mengambang—apakah bisa dijelaskan, jangan sampai terlihat seperti sihir. Kalau tiga poin ini belum terbukti, saya anggap ini hanya eksperimen yang menarik, tidak akan dengan mudah ambil posisi.

Dengan TermMax, intinya “biaya dana di masa depan” dijadikan komoditas untuk diperdagangkan—arahnya saya setujui. Tapi dalam keuangan, pada akhirnya ketebalan order-lah yang menentukan. Menurut kalian, apakah pasar suku bunga ini bisa benar-benar berjalan? #TermMax @TermMax