Masa muda dimulai dari pemuasan hasrat seksual.
Kau bahkan tidak bisa mengucapkan kalimat bahwa “mahasiswa tidak punya masa muda” saat kau melewati lapangan sekolah sore hari saat jam belajar tambahan di SMA, penginapan di dekat kawasan kampus, atau gerbang asrama mahasiswi. Yang tidak punya masa muda adalah dirimu—berani, penuh percaya diri, selalu ada cara untuk menikmati sensasi masa muda.
Suara cing-cek, suara berciuman, dan rintihan—semuanya adalah suara yang membuat puncak gairah biologis pria dan wanita pada masa puber berdebar-debar.
Struktur biologis manusia: begitu memasuki masa puber, seseorang akan memiliki hasrat seksual yang paling kuat.
Namun di SMA dan universitas, kebanyakan anak muda tidak bisa tampil percaya diri—berasal dari kondisi keluarga. Jadi, di mana-mana pun tidak ada rasa yakin pada diri.
Kalau tak bisa percaya diri, tak akan bisa mendapatkan pasangan; kalau tak bisa mendapatkan pasangan, akhirnya memilih masturbasi. Kalau frekuensinya terlalu banyak, tetap saja terasa penekanan hasrat yang terpendam.
Karena urusan ini, pada dasarnya hanya bisa terlaksana oleh dua orang yang sama-sama memiliki keluwesan batin—bekerja sama. Kalau melakukannya sendiri, akan muncul rasa bersalah yang berat dan perasaan hampa.
Pada akhirnya, semuanya kembali ke masalah: terlalu miskin. Anak muda tetap saja tak sanggup mengangkat kepala.
Kau bahkan tidak bisa mengucapkan kalimat bahwa “mahasiswa tidak punya masa muda” saat kau melewati lapangan sekolah sore hari saat jam belajar tambahan di SMA, penginapan di dekat kawasan kampus, atau gerbang asrama mahasiswi. Yang tidak punya masa muda adalah dirimu—berani, penuh percaya diri, selalu ada cara untuk menikmati sensasi masa muda.
Suara cing-cek, suara berciuman, dan rintihan—semuanya adalah suara yang membuat puncak gairah biologis pria dan wanita pada masa puber berdebar-debar.
Struktur biologis manusia: begitu memasuki masa puber, seseorang akan memiliki hasrat seksual yang paling kuat.
Namun di SMA dan universitas, kebanyakan anak muda tidak bisa tampil percaya diri—berasal dari kondisi keluarga. Jadi, di mana-mana pun tidak ada rasa yakin pada diri.
Kalau tak bisa percaya diri, tak akan bisa mendapatkan pasangan; kalau tak bisa mendapatkan pasangan, akhirnya memilih masturbasi. Kalau frekuensinya terlalu banyak, tetap saja terasa penekanan hasrat yang terpendam.
Karena urusan ini, pada dasarnya hanya bisa terlaksana oleh dua orang yang sama-sama memiliki keluwesan batin—bekerja sama. Kalau melakukannya sendiri, akan muncul rasa bersalah yang berat dan perasaan hampa.
Pada akhirnya, semuanya kembali ke masalah: terlalu miskin. Anak muda tetap saja tak sanggup mengangkat kepala.