Saya telah memperhatikan bagaimana narasi kripto sering kali berfokus pada hal yang dihapus oleh sebuah protokol: perantara, kustodian, atau kebutuhan untuk bergantung pada satu institusi saja. Itu bisa bermakna. Namun semakin saya mengamati, semakin saya berpikir bahwa kisah yang menarik adalah apa yang justru tersisa.
Ambil contoh TBV. Rancangannya dapat mengurangi kepercayaan kustodian, tetapi itu tidak berarti pengguna beroperasi di dunia tanpa asumsi. Mereka tetap bergantung pada kriptografi protokol, keamanan Bitcoin dan Ethereum, aplikasi DeFi, dan, dalam keadaan tertentu, tata kelola sementara atau kunci multisig darurat.
Saya tidak selalu melihat itu sebagai kekurangan. Itu adalah asumsi kepercayaan, dan setiap sistem keuangan memilikinya. Pertanyaan pentingnya adalah apakah orang-orang memahaminya dengan cukup jelas untuk membuat penilaian yang berinformasi.
Saya sempat bertanya-tanya apakah komunitas kripto kadang-kadang mencampuradukkan lebih sedikit pihak yang dipercaya dengan lebih sedikit kepercayaan secara keseluruhan. Sebuah sistem bisa mendistribusikan kekuasaan sambil tetap membutuhkan keyakinan pada kode, insentif, model keamanan, proses tata kelola, dan manusia yang dapat turun tangan ketika sesuatu berjalan salah.
Beda tersebut terasa semakin penting bagi saya.
Karena desentralisasi bukan sekadar tentang menghilangkan perantara. Desentralisasi juga tentang membuat asumsi-asumsi yang tersisa menjadi terlihat.
Mungkin ujian yang sebenarnya bukan apakah sebuah protokol bisa mengklaim dapat meminimalkan kepercayaan.
Mungkin ujian itu adalah apakah pengguna, setelah memahami dengan tepat di mana kepercayaan masih ada, akan tetap merasa nyaman bergantung padanya.
Jadi ketika kita mengatakan sebuah sistem “trustless”, apakah kita benar-benar sedang menggambarkan arsitekturnya—atau menggambarkan seberapa banyak dari arsitektur yang telah dipilih oleh pengguna untuk tidak dipertanyakan?
@Dusk_Foundation $DUSK #dusk
$MUBARAK
$TREE
Ambil contoh TBV. Rancangannya dapat mengurangi kepercayaan kustodian, tetapi itu tidak berarti pengguna beroperasi di dunia tanpa asumsi. Mereka tetap bergantung pada kriptografi protokol, keamanan Bitcoin dan Ethereum, aplikasi DeFi, dan, dalam keadaan tertentu, tata kelola sementara atau kunci multisig darurat.
Saya tidak selalu melihat itu sebagai kekurangan. Itu adalah asumsi kepercayaan, dan setiap sistem keuangan memilikinya. Pertanyaan pentingnya adalah apakah orang-orang memahaminya dengan cukup jelas untuk membuat penilaian yang berinformasi.
Saya sempat bertanya-tanya apakah komunitas kripto kadang-kadang mencampuradukkan lebih sedikit pihak yang dipercaya dengan lebih sedikit kepercayaan secara keseluruhan. Sebuah sistem bisa mendistribusikan kekuasaan sambil tetap membutuhkan keyakinan pada kode, insentif, model keamanan, proses tata kelola, dan manusia yang dapat turun tangan ketika sesuatu berjalan salah.
Beda tersebut terasa semakin penting bagi saya.
Karena desentralisasi bukan sekadar tentang menghilangkan perantara. Desentralisasi juga tentang membuat asumsi-asumsi yang tersisa menjadi terlihat.
Mungkin ujian yang sebenarnya bukan apakah sebuah protokol bisa mengklaim dapat meminimalkan kepercayaan.
Mungkin ujian itu adalah apakah pengguna, setelah memahami dengan tepat di mana kepercayaan masih ada, akan tetap merasa nyaman bergantung padanya.
Jadi ketika kita mengatakan sebuah sistem “trustless”, apakah kita benar-benar sedang menggambarkan arsitekturnya—atau menggambarkan seberapa banyak dari arsitektur yang telah dipilih oleh pengguna untuk tidak dipertanyakan?
@Dusk_Foundation $DUSK #dusk
$MUBARAK
$TREE
