Dulu saya pernah berpikir bahwa sistem yang semakin mudah diaudit harus semakin banyak dipublikasikan dengan data yang lebih terbuka.
Namun, semakin saya mempelajari tentang keuangan, saya semakin melihat bahwa itu tidak sepenuhnya benar.
Bayangkan seorang auditor perlu memeriksa sebuah transaksi aset:
Apakah pihak yang terlibat memenuhi syarat?
Apakah transaksi tersebut mematuhi peraturan?
Apakah aset dialihkan dengan benar sesuai rule?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, mereka membutuhkan evidence.
Tapi itu tidak berarti mereka perlu melihat seluruh saldo, riwayat transaksi, atau informasi pribadi semua participant.
Itulah sebabnya saya menganggap pendekatan dari @Dusk menarik.
Untuk aset yang teregulasi, masalahnya tidak sesederhana:
“Apakah datanya harus dipublikasikan atau tidak?”
Melainkan:
“Siapa yang perlu memverifikasi apa, dan seberapa banyak yang benar-benar perlu mereka lihat?”
Zero-knowledge proofs dapat membantu satu pihak membuktikan bahwa suatu kondisi benar tanpa harus mengungkap seluruh data di baliknya.
Selective disclosure memungkinkan informasi yang diperlukan dibagikan kepada pihak yang tepat ketika ada alasan yang sah.
Jadi, saya pikir:
Auditability ≠ Full Transparency
Sistem keuangan yang baik tidak harus mengubah semua data menjadi public data agar bisa membuktikan bahwa sistem tersebut dapat dipercaya.
Sistem itu perlu menyediakan cukup bukti untuk dapat diverifikasi, sekaligus mempertahankan bagian data yang tidak perlu untuk tidak diumumkan.
Mungkin itulah salah satu hal penting agar privacy dan compliance benar-benar bisa hidup berdampingan di on-chain.
#dusk $DUSK