20 Agustus, dua pejabat AS mengatakan kepada Axios bahwa militer AS diam-diam telah membangun jalur pelayaran untuk masuk dan keluar Selat Hormuz. Setiap hari, jalur tersebut mengangkut jutaan barel minyak. Meskipun perang yang lebih luas masih buntu, operasi ini telah mencapai hasil yang signifikan. Operasi ini telah berlangsung selama beberapa minggu, dan saat ini 15 hingga 20 kapal tanker telah melewati jalur selatan di sepanjang pantai Oman untuk masuk dan keluar Selat Hormuz. Menurut pejabat tersebut, sekitar 10 juta barel minyak per hari diekspor melalui selat ini dan masuk ke pasar energi global, namun angka tersebut kira-kira setengah dari volume pengiriman sebelum perang. Aksi yang dipimpin AS ini sedang meredakan salah satu dampak terberat yang ditimbulkan oleh perang: gangguan pada pasokan minyak, yang pada gilirannya mendorong harga minyak mentah naik tajam. Para pejabat mengatakan, meskipun minyak yang diekspor melalui selat tersebut saat ini masih lebih rendah dibandingkan tingkat sebelum perang, hal itu sudah memberikan pengaruh yang jelas terhadap pasokan minyak global.