Usia makin bertambah, hal paling bikin tak berdaya adalah tak sadar munculnya uban di kepala.
Seorang kakak laki-laki melihat uban yang makin banyak, akhirnya memutuskan pergi ke salon untuk mewarnai rambut, sekalian merapikan penampilan.
Begitu masuk, dia langsung to the point menanyakan harga: “Mewarnai rambut berapa?”
Penata rambut: “280.”
Kakak itu mendengar lalu langsung menggeleng tegas, merasa harganya terlalu mahal. Otaknya pun cepat berputar, seketika menemukan ide baru untuk menghemat.
Dia mencoba bertanya, “Kalau terlalu mahal, gimana kalau saya cuma mewarnai setengahnya? Apa berarti 140 saja?”
Penata rambut sempat bingung, mengira yang dimaksud mewarnai setengah bagian rambut, lalu dengan cepat menyetujui, “Bisa, yang penting kamu yakin.”
Ternyata, satu kalimat dari si kakak membuat penata rambut langsung kehabisan kata-kata.
“Jadi, cukup uban saja yang diwarnai hitam. Rambut hitamnya nggak usah disentuh—biar hemat setengah harga!”
Sekejap langsung paham. Yang dimaksud “mewarnai setengah” oleh si kakak, bukan membagi kiri-kanan setengah bagian, melainkan membedakan warna hitam dan putih.
Intinya: konsumsi yang tepat sasaran, modifikasi sesuai kebutuhan. Uang lebih sedikit pun nggak mau dibuang.
Harus diakui, cara berpikir untuk menghemat ini benar-benar jenius. Tidak ada niat licik, cuma orang biasa yang cermat dan lucu dalam menghitung-hitung.
Seorang kakak laki-laki melihat uban yang makin banyak, akhirnya memutuskan pergi ke salon untuk mewarnai rambut, sekalian merapikan penampilan.
Begitu masuk, dia langsung to the point menanyakan harga: “Mewarnai rambut berapa?”
Penata rambut: “280.”
Kakak itu mendengar lalu langsung menggeleng tegas, merasa harganya terlalu mahal. Otaknya pun cepat berputar, seketika menemukan ide baru untuk menghemat.
Dia mencoba bertanya, “Kalau terlalu mahal, gimana kalau saya cuma mewarnai setengahnya? Apa berarti 140 saja?”
Penata rambut sempat bingung, mengira yang dimaksud mewarnai setengah bagian rambut, lalu dengan cepat menyetujui, “Bisa, yang penting kamu yakin.”
Ternyata, satu kalimat dari si kakak membuat penata rambut langsung kehabisan kata-kata.
“Jadi, cukup uban saja yang diwarnai hitam. Rambut hitamnya nggak usah disentuh—biar hemat setengah harga!”
Sekejap langsung paham. Yang dimaksud “mewarnai setengah” oleh si kakak, bukan membagi kiri-kanan setengah bagian, melainkan membedakan warna hitam dan putih.
Intinya: konsumsi yang tepat sasaran, modifikasi sesuai kebutuhan. Uang lebih sedikit pun nggak mau dibuang.
Harus diakui, cara berpikir untuk menghemat ini benar-benar jenius. Tidak ada niat licik, cuma orang biasa yang cermat dan lucu dalam menghitung-hitung.
