Saya dulu hanya mengisi harga dan jumlah saat memasang pesanan, dan menganggap suku bunga pasar itu tidak terlalu penting. Perubahan pada Range Order dari TermMax mengubah cara pandang saya: market maker tidak sekadar mengajukan APR tetap, melainkan menuliskan berbagai rentang dana sebagai kurva harga yang berkesinambungan. Volume bergerak di sepanjang kurva; setiap segmen bisa disetel batas suku bunga dan ambang jumlah. Di pasar yang sama, Anda bahkan dapat memasukkan lebih dari satu Range Order sekaligus, sehingga dana bisa memilih penawaran yang bersedia diterima.

Saya memahaminya sebagai etalase grosir dengan penetapan harga bertahap. Pesanan kecil dulu “mengambil” harga yang lebih dekat di bagian depan, sementara pesanan besar terus menyapu ke belakang; pada akhirnya, suku bunga rata-rata yang didapat tentu berbeda. TermMax bisa hanya membuat kurva untuk sisi pinjaman, atau hanya untuk sisi pinjaman/penempatan; Range Order dua arah mengelola sisi masuk dan keluar dana secara bersamaan. Pendapatan market maker berasal dari selisih harga di antara dua kurva tersebut. Suku bunga dikunci saat transaksi, tetapi itu tidak berarti semua orang akan bertransaksi pada titik yang sama.

Kesulitannya sebenarnya ada pada cara menggambar kurva. Dokumen risiko resmi mengingatkan bahwa deviasi kuotasi dari pasar dapat memicu adverse selection; jika tidak ada pihak yang mengeksekusi order, dana akan menganggur; transaksi bernilai besar menghabiskan kedalaman pasar, dan slippage pun akan ikut membesar. Penentuan tenor yang tidak tepat juga bisa menyebabkan ketidaksesuaian arus kas. Saya tidak hanya melihat APR paling mencolok di halaman, tetapi memeriksa bentuk kurva dan kedalaman yang benar-benar bisa dieksekusi, lalu melihat selisih harga di kedua sisi dan tanggal jatuh tempo. TermMax memberikan kuasa penetapan harga kepada market maker, sekaligus menyerahkan biaya jika penetapan harga salah.

@TermMax #termmax