Suatu hôm nọ, saya membuka lại @TermMax dan melihat 1.000 USDC yang masih mengendap di dalam wallet, bersama dengan sebuah pertanyaan: bagaimana cara agar jumlah uang ini diberi penilaian yang tepat?
Jujur saja, sebelumnya saya pernah menilai Lending cukup sederhana.
APR berapa?
Kalau tinggi, saya akan meluangkan waktu melihatnya lebih lama. Kalau rendah, saya abaikan.
Namun contoh tentang Perintah Berdasarkan Rentang (Range Order) membuat saya harus berhenti sejenak.
1.000 USDC dibagi menjadi dua bagian: 80% pada rentang 10%–15% dan 20% pada rentang 15%–40%.
Jadi, 800 USDC pertama dan 200 USDC berikutnya tidak diberi penilaian yang sama.
Titik potong dari Kurva Penilaian (Pricing Curve) adalah (0, 10%), (800, 15%), (1000, 40%).
Saya menatapnya cukup lama...
Mengapa biaya modal bisa tetap diam padahal semakin banyak likuiditas yang terkonsumsi?
Itu seharusnya tidak diam.
Semakin dalam peminjam melakukan matching, semakin jauh Actual Execution melangkah menyusuri Pricing Curve.
Dalam pool yang sama, tetapi harganya berbeda tergantung seberapa jauh permintaan dapat mendorongnya.
Karena pasar yang nyata tidak menjaga harga tetap konstan saat permintaan terus meningkat, bukan? Yang perlu dipantau ke depan bukan hanya XP atau APY, melainkan:

TVL riil → volume riil → biaya/pendapatan → likuiditas → pengguna riil → adopsi RWA → kemampuan bertahan melewati bear market.

Jika metrik-metrik ini tumbuh secara berkelanjutan, TermMax akan menjadi proyek yang patut diperhatikan dalam kategori fixed-rate DeFi.

Namun jika pertumbuhan sebagian besar didorong oleh insentif dan point farming, argumennya akan jauh lebih lemah.

Jadi, TermMax adalah proyek yang layak untuk dipantau — tetapi belum menjadi sebuah cerita yang terbukti. #termmax @TermMax