Utang AS mengguncang meja, aset global kompak dihajar
Sebuah badai obligasi AS sedang melanda dunia.
Kepanikan merembet cepat dari saham AS ke pasar Asia-Pasifik.
Saham Korea dan Jepang jatuh lebih dulu.
Saham Korea sempat mengalami circuit breaker di tengah perdagangan, sementara dua raksasa penyimpanan tampil sangat mengenaskan.
Pasar saham Jepang kemudian turut terperosok, saham chip ikut tertekan.
Imbal hasil obligasi di berbagai negara mencetak rekor tertinggi dalam puluhan tahun.
Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun melonjak hingga 5,31%, tertinggi sejak 19 tahun lalu.
Obligasi AS ambruk, obligasi Jepang juga tembus.
Imbal hasil obligasi 10 tahun Jepang kini mendekati 3%, rekor tertinggi dalam hampir 30 tahun.
3% adalah garis hidup obligasi Jepang.
Analisis menilai, jika menembusnya, bisa memicu gelombang penjualan berikutnya.
Ada tiga kekuatan jelas yang mendorong imbal hasil obligasi Jepang.
Pertama, inflasi dan melemahnya yen. Menjelang akhir Juli, yen berputar di level terendah dalam 40 tahun; krisis Timur Tengah juga mendorong ekspektasi inflasi global. Akibatnya, Bank Sentral Jepang terpaksa mempercepat langkah keluar dari kebijakan pelonggaran.
Kedua, kekhawatiran fiskal. Utang pemerintah Jepang sudah melebihi 200% dari PDB. Rencana ekspansi investasi dan pemangkasan pajak yang digulirkan PM Hayashi/Sanae Takahashi? membuat pasar makin gelisah.
Ketiga, permintaan melemah. Lelang obligasi Jepang tenor 10 tahun bulan ini mencatat permintaan terendah dalam setahun.
Analis Bank Deutsche (Deutsche Bank) menilai ini adalah proses normalisasi dengan nuansa peringatan, bukan krisis. Begitu Bank Sentral Jepang merealisasikan kenaikan suku bunga dan suku bunga terminal menjadi jelas, pembelian saat harga turun akan perlahan mengalahkan tren penjualan berkelanjutan.
Ekonom utama Institut Riset Terpadu Jepang, Ueno Tsuyoshi, memperingatkan bahwa jika pasar mengartikan kenaikan ini sebagai kenaikan yang berbahaya, keterkaitan antara melemahnya yen dan pasar obligasi akan makin memperparah. Tembus 3% memiliki makna simbolis.
Pasar obligasi global masih menghadapi ujian besar malam ini.
Kementerian Keuangan AS akan melelang obligasi negara tenor 20 tahun senilai 16 miliar dolar AS.
Hingga saat ini tahun ini, defisit anggaran AS sudah mendekati 1,8 triliun dolar, total utang federal segera menembus 40 triliun dolar.
Siapa lagi yang mau meminjamkan uang kepada AS?
Para pemilik utama obligasi AS di seluruh dunia sedang kompak mundur.
Pada Juni, investor luar negeri memegang obligasi AS turun menjadi 9,299 triliun dolar, berkurang bersih 72,1 miliar dolar dalam sebulan.
Pembeli terbesar, Jepang, justru mempercepat penjualan demi menyelamatkan yen. Pada Juni, Jepang mengurangi kepemilikan sebesar 26,4 miliar dolar, penurunan terbesar di dunia; pada Mei sudah melepas 66,8 miliar dolar, sehingga dalam dua bulan total dana yang ditarik sekitar 93,2 miliar dolar.
Sebuah lingkaran mati sedang dimainkan antara AS dan Jepang.
The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, yen melemah, Jepang menjual obligasi AS, tekanan jual obligasi AS makin berat, imbal hasil melesat, dan tekanan terhadap yen untuk terus melemah pun makin besar.
Pelaku pasar kian yakin Bank Sentral Jepang akan menaikkan suku bunga paling cepat pada September. Mizuho Financial Group memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sangat tinggi; jarak aksi kebijakan juga bisa dipangkas dari enam bulan menjadi tiga bulan sekali.
#saling follow # #kalau punya followers pasti dibalas#
Sebuah badai obligasi AS sedang melanda dunia.
Kepanikan merembet cepat dari saham AS ke pasar Asia-Pasifik.
Saham Korea dan Jepang jatuh lebih dulu.
Saham Korea sempat mengalami circuit breaker di tengah perdagangan, sementara dua raksasa penyimpanan tampil sangat mengenaskan.
Pasar saham Jepang kemudian turut terperosok, saham chip ikut tertekan.
Imbal hasil obligasi di berbagai negara mencetak rekor tertinggi dalam puluhan tahun.
Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun melonjak hingga 5,31%, tertinggi sejak 19 tahun lalu.
Obligasi AS ambruk, obligasi Jepang juga tembus.
Imbal hasil obligasi 10 tahun Jepang kini mendekati 3%, rekor tertinggi dalam hampir 30 tahun.
3% adalah garis hidup obligasi Jepang.
Analisis menilai, jika menembusnya, bisa memicu gelombang penjualan berikutnya.
Ada tiga kekuatan jelas yang mendorong imbal hasil obligasi Jepang.
Pertama, inflasi dan melemahnya yen. Menjelang akhir Juli, yen berputar di level terendah dalam 40 tahun; krisis Timur Tengah juga mendorong ekspektasi inflasi global. Akibatnya, Bank Sentral Jepang terpaksa mempercepat langkah keluar dari kebijakan pelonggaran.
Kedua, kekhawatiran fiskal. Utang pemerintah Jepang sudah melebihi 200% dari PDB. Rencana ekspansi investasi dan pemangkasan pajak yang digulirkan PM Hayashi/Sanae Takahashi? membuat pasar makin gelisah.
Ketiga, permintaan melemah. Lelang obligasi Jepang tenor 10 tahun bulan ini mencatat permintaan terendah dalam setahun.
Analis Bank Deutsche (Deutsche Bank) menilai ini adalah proses normalisasi dengan nuansa peringatan, bukan krisis. Begitu Bank Sentral Jepang merealisasikan kenaikan suku bunga dan suku bunga terminal menjadi jelas, pembelian saat harga turun akan perlahan mengalahkan tren penjualan berkelanjutan.
Ekonom utama Institut Riset Terpadu Jepang, Ueno Tsuyoshi, memperingatkan bahwa jika pasar mengartikan kenaikan ini sebagai kenaikan yang berbahaya, keterkaitan antara melemahnya yen dan pasar obligasi akan makin memperparah. Tembus 3% memiliki makna simbolis.
Pasar obligasi global masih menghadapi ujian besar malam ini.
Kementerian Keuangan AS akan melelang obligasi negara tenor 20 tahun senilai 16 miliar dolar AS.
Hingga saat ini tahun ini, defisit anggaran AS sudah mendekati 1,8 triliun dolar, total utang federal segera menembus 40 triliun dolar.
Siapa lagi yang mau meminjamkan uang kepada AS?
Para pemilik utama obligasi AS di seluruh dunia sedang kompak mundur.
Pada Juni, investor luar negeri memegang obligasi AS turun menjadi 9,299 triliun dolar, berkurang bersih 72,1 miliar dolar dalam sebulan.
Pembeli terbesar, Jepang, justru mempercepat penjualan demi menyelamatkan yen. Pada Juni, Jepang mengurangi kepemilikan sebesar 26,4 miliar dolar, penurunan terbesar di dunia; pada Mei sudah melepas 66,8 miliar dolar, sehingga dalam dua bulan total dana yang ditarik sekitar 93,2 miliar dolar.
Sebuah lingkaran mati sedang dimainkan antara AS dan Jepang.
The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, yen melemah, Jepang menjual obligasi AS, tekanan jual obligasi AS makin berat, imbal hasil melesat, dan tekanan terhadap yen untuk terus melemah pun makin besar.
Pelaku pasar kian yakin Bank Sentral Jepang akan menaikkan suku bunga paling cepat pada September. Mizuho Financial Group memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sangat tinggi; jarak aksi kebijakan juga bisa dipangkas dari enam bulan menjadi tiga bulan sekali.
#saling follow # #kalau punya followers pasti dibalas#