Perdebatan soal dolar kembali jadi menarik.

Satu pihak mengatakan, lihat penggunaan nyatanya—90% transaksi valuta asing masih melibatkan dolar, bahkan setelah 2022. Infrastruktur yang begitu dalam membuat bahkan pemerintah yang bersikap tidak bersahabat pun tetap mengandalkannya. Ini bukan sekadar mata uang, tetapi seluruh sistem perpipaan.

Pihak lain mengatakan itu hanya dominasi yang tersisa. Sterling terlihat tak tersentuh pada 1931 dengan 63% cadangan, lalu runtuh dalam enam belas tahun. Yang mendorong penggunaan dolar adalah pinjaman yang murah—arbitrase itu sekarang sudah hilang. Obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 4,75% dibanding China 1,67% membalikkan logika sepenuhnya.

Perubahan sesungguhnya yang tak banyak dibicarakan: untuk pertama kalinya, AS menutup defisit perdagangan dengan mengekspor ekuitas, bukan utang. Ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam era dolar. Jika gelembung AI terkoreksi, ini bukan sekadar peristiwa saham—melainkan peristiwa mata uang.

Satu kubu berpikir fragmentasi adalah penurunan produktivitas yang tak akan diterima dunia. Kubu lain berpikir, kepercayaan cepat retak, seperti yang terjadi pada Inggris—kebanyakan setelahnya.

Apakah keunggulan dolar bersifat struktural, atau hanya yang terakhir bertahan sebelum transisi berikutnya?

Bagaimanapun, anggapan bahwa itu permanen mulai terlihat malas—hanya asumsi.