Saya belakangan ini melihat token FT TermMax dengan cara yang berbeda.
Awalnya, itu terlihat seperti pinjaman dengan fixed rate.
Tapi pada dasarnya, FT itu adalah obligasi zero-coupon di rantai (on-chain).
Saya membelinya di bawah nilai nominal, menahannya sampai jatuh tempo, lalu menebusnya untuk jumlah penuh. Tidak ada kupon di tengah-tengah. Imbal hasil saya hanya selisih diskonto yang saya kunci saat masuk.
Hal yang benar-benar menarik perhatian saya adalah membandingkan berbagai tenor.
Pasar 30 hari bisa memberi harga dengan tingkat yang sama sekali berbeda dibanding pasar 90 hari. Spread itu bukan sekadar noise acak. Itu memberi tahu kita bagaimana pasar mematok harga modal sepanjang waktu.
Ini pada dasarnya kurva imbal hasil (yield curve), hanya saja alih-alih satu grafik yang mulus, kita melihatnya lewat buku pesanan terpisah dengan tanggal jatuh tempo yang berbeda.
Dan saya pikir inilah bagian yang sering diabaikan orang.
Biasanya kita bertanya, “Berapa APY yang bisa saya dapatkan?”
Tapi pertanyaan yang lebih baik adalah:
“Berapa harga yang diminta pasar untuk modal di berbagai titik waktu?”
Itu mengubah cara saya memandang fixed income di DeFi.
Suku bunganya terkunci saat saya masuk, jatuh tempo sudah ditentukan, dan nilai penebusan diketahui di awal. Tentu saja, masih ada risiko smart contract, kolateral, dan likuiditas, tetapi mekanisme fixed-rate itu sendiri jauh lebih transparan dibanding sekadar menyebut produk pinjaman variabel sebagai “fixed.”
Bagian yang menarik bukan cuma imbal hasil.
Intinya, DeFi mulai membuat waktu, jatuh tempo, dan biaya modal masa depan menjadi sesuatu yang bisa diperdagangkan.
Itu jauh lebih besar daripada sekadar produk fixed APY yang lain.
@TermMax #termmax