Kutipan Livermore: Jangan pernah meratakan (menyamakan) posisi yang mengalami kerugian; keuntungan akan mengurus dirinya sendiri, dan kerugian tidak akan pernah selesai dengan sendirinya.

Celo, Mina, dan AVAX pernah menjadi jaringan blockchain Layer 1 yang menjadi sorotan. Celo merebut jalur pembayaran inklusif di perangkat mobile, Mina memegang teknologi ZK block berukuran 22KB yang langka dan menetap, sementara AVAX sempat sangat populer berkat arsitektur subnetwork Avalanche. Ketiganya punya cerita menarik serta keunggulan sebagai pionir yang masing-masing menimbulkan daya tarik besar bagi investor untuk masuk pada harga tinggi. Namun, ketiganya sama-sama adalah blockchain yang menggalang dana dari VC: token dari yayasan dan institusi awal terus mengalami unlock, dan tekanan jual jangka panjang sulit dihilangkan.

Setelah banyak investor terjebak, mereka menempuh jalan lama: menurunkan harga rata-rata untuk menutup kerugian, terus menambah posisi untuk menipiskan biaya, lalu secara pasif berubah menjadi “bapak-bapak” yang membangun di dalam orderan—menganggap posisi terjebak yang hanya ditahan sebagai keteguhan nilai jangka panjang. Livermore berulang kali mengingatkan: jangan terus menambah modal pada posisi yang sedang rugi; kerugian tidak akan otomatis diperbaiki. Meski segmen ini memiliki ruang imajinasi, dana dari pihak institusi mengalir keluar tanpa henti, sementara dana tambahan tidak cukup; akibatnya, pergerakan harga mudah menjadi fase bergejolak jangka panjang dengan tren turun yang berkepanjangan.

Narasi teknis sebaik apa pun, struktur kepemilikan token tidak bisa diabaikan. Menahan dengan sabar bukan berarti terus memaksa bertahan pada aset yang sedang merugi; bedakan kondisi dasar dari tiap aset, dan tetap disiplin dalam bertransaksi—itulah kunci untuk menghindari jerat terjebak terlalu dalam.