Jujur saja, ini adalah metode yang selama ini saya pakai—nggak sesulit itu.
Kalau modalnya kecil untuk trading, yang paling ditakuti bukan karena modalnya sedikit, tapi karena dari awal sudah kepikiran ingin sekali loncat langsung balik modal.
Saya lebih cenderung memakai pendekatan bergulir: kalau ada peluang ya lakukan, kalau tidak ada ya tunggu; lihat posisinya, jangan nebak naik-turun; lihat tren, jangan mengejar sensasi.
Intinya bukan berapa besar untung dari setiap transaksi, tapi mengendalikan risiko agar profit bisa terkumpul pelan-pelan.
Dulu ada seorang teman, mulai dari 1500U. Awalnya dia mengejar pergerakan harga setiap hari—untung-untung-rugi. Lalu dia mulai membagi posisi (split), mengontrol ukuran posisi, dan merencanakan target profit serta cut loss sejak awal. Dalam sebulan dia bisa mencapai 5600U.
Tentu saja, ini hanya satu contoh, tidak berarti semua orang bisa menirunya.
Tapi perubahan yang benar-benar terjadi pada dirinya bukan karena dia menemukan indikator ajaib, melainkan karena dia mulai menjalankan aturan mainnya sendiri.
Banyak orang rugi, sebenarnya bukan karena benar-benar tidak bisa membaca pergerakan harga.
Arah sudah benar, tapi ukuran posisi terlalu berat; sudah untung tidak mau keluar, saat rugi malah ditahan terus. Pada akhirnya bukan kalah oleh market, tapi kalah oleh diri sendiri.
Jadi untuk trading dengan modal kecil, saya lebih mengutamakan empat hal:
ritme, pembagian dana, ukuran posisi, dan rencana keluar (exit).
Kendalikan risiko dulu, baru pikirkan potensi keuntungan.
Trading itu tidak harus dilakukan setiap hari. Yang penting: saat harus bertindak, berani melakukannya; saat harus menunggu, tahan diri.
Mau balik modal bukan bisa terjadi hanya dengan “bolak-balik di beranda” tanpa strategi. Kalau benar-benar ingin berubah, mending mulai susun rencana bersama saya dari sekarang.