$Hawk
Pada tahun itu, seorang pemburu tua membawa beberapa orang muda untuk berpatroli di tepi pegunungan. Lembah di bawah kaki mereka yang dulu dipenuhi hutan asli yang rimbun, kini tampak sedikit terluka akibat pembangunan berlebihan.
Tiba-tiba, seekor elang muda jatuh dari atas sarang yang rusak di Cliff, mengepakkan sayapnya yang belum tumbuh sempurna, lalu terjatuh berat di tumpukan kayu lapuk. Para pemuda segera mengerumuninya, berdiskusi apakah sebaiknya membawanya pulang untuk dirawat dengan penuh perhatian, atau justru menjadikannya spesimen mahal untuk dipamerkan.
Pemburu tua berjongkok, dengan lembut merapikan bulu elang muda yang masih kaget. Ia berkata dengan nada tenang: “Kau kira melindungi seekor elang adalah karena kita lebih mulia dari orang lain, dan lebih paham tentang alam daripada yang lain? Tidak, kita tidak sebernilai itu.”
Ia mengangkat tangan, menunjuk ke langit—di sana seekor elang dewasa sedang berputar di antara sela-sela awan, mengeluarkan teriakan tajam.
“Seekor elang bukan hewan peliharaan. Ia milik langit ini. Ketika kita memilih mengepalkan tangan untuk membukakan sayapnya—melindunginya—itu bukanlah pamer sikap luhur yang dibuat-buat, melainkan sebuah janji: sebuah janji bahwa kita masih bersedia percaya, bahwa tanah ini layak untuk diperbaiki, dan bahwa langit ini tetap membutuhkan kekuatannya untuk mengendalikan.”
Pemburu tua menempatkan elang muda itu di cabang yang aman, lalu menyerahkan sepotong kecil daging segar kepada para pemuda, agar ia memperoleh tenaga kembali, sambil menunggu respons induk elang. “Apa yang kita lakukan hari ini seperti menaburkan sebutir benih di tanah yang kering. Kau tidak bisa menyelamatkan seluruh hutan sendirian, tapi ketika begitu banyak orang seperti kita bersedia maju, memegang teguh tekad yang sama ini, lalu bergabung menjadi satu pasukan, benih itu akan bertunas.”
Bertahun-tahun kemudian, para pemuda dari masa itu sudah tidak lagi muda, namun ia tetap terbiasa menengadah melihat langit. Setiap kali melihat elang atau falcon melintas di atas lembah, ia selalu teringat ucapan pemburu tua pada hari itu.
** HawkArmy ** hakikat dari semangatnya memang seperti itu. Memegang Hawk bukan untuk berdiri di atas orang lain dengan moralitas yang tinggi, juga bukan untuk membuktikan betapa luar biasanya dirimu; ini adalah sebuah komitmen yang tertanam di dalam hati, menandakan bahwa kau memilih menjadi penjaga dalam ekosistem ini.
Setiap orang yang menyahut gagasan ini adalah rekan seperjalanan di jalan tersebut. Kami tidak meneriakkan slogan yang berlebihan; kami hanya diam-diam menyebarkan benih kebaikan yang melambangkan keberlanjutan dan kebersamaan—hingga jutaan tekad kecil berkumpul menjadi angin, lalu kembali mengangkat sayap-sayap gerombolan elang agar bebas terbang.