Saya rekan kerja memegang lebih dari dua puluh ETH; setiap kali pergerakan harga bergejolak, dia langsung membuat grafik K-line, tapi tidak berani menyentuh opsi karena takut dipotong (margin call). Kemudian dia mencoba “dana” opsi senilai @TermMax , memasukkan ETH ke sistem, yang otomatis menjalankan strategi covered call (menjual call berjaminan) yang berulang. Tiap minggu dia menjual opsi call out-of-the-money untuk mendapatkan premi; perkiraan imbal hasil tahunan bisa bertambah sekitar 6% sampai 12%. Imbal hasil ini bergantung pada harga strike dan tanggal kedaluwarsa. Kalau pasar stabil, premi cenderung tipis; tapi begitu volatilitas meningkat, justru bisa “memanen” premi dengan harga yang lebih murah. Jika harga naik melewati harga strike, ETH mungkin akan dieksekusi untuk dijual, tetapi premi yang masuk sudah cukup seperti mengurangi posisi di harga tinggi—rasanya jauh lebih nyaman daripada hanya menunggu sampai impas (break even) nanti.

Masalah terbesar opsi on-chain sebelumnya adalah likuiditasnya terlalu tersebar; selisih harga bid-ask bisa sampai tidak masuk akal. TermMax menggunakan buku pesanan dengan tenor tetap ditambah market making berbasis AMM, sehingga spread bid-ask menyempit ke batas yang masih bisa diterima. Opsi itu sendiri juga bisa ditransfer, jadi tidak perlu menunggu sampai jatuh tempo dengan “terkunci”. Rekan saya bilang sekarang saat harga turun pun ada bantalan premi, saat harga naik pun dia tetap menerima harga strike—jadi justru lebih tenang di dalam hati. Kalau alat on-chain bisa menurunkan ambang untuk lindung nilai sampai level begini, memegang spot keras kepala sampai akhir demi keyakinan atau justru malas mengelola risiko?

#termmax