Berita kebocoran data perpajakan Prancis membuat saya memandang self-custody $BTC secara jauh berbeda. Dulu saya selalu berpikir selama kunci privat tetap berada di tangan sendiri, BTC pasti aman, dan anonimitas di blockchain cukup untuk melindungi identitas. Namun kali ini, kebocorannya langsung mengaitkan catatan perpajakan dengan alamat di chain, sehingga nama asli pemilik, alamat tempat tinggal, dan jumlah kepemilikan semuanya terbuka. Penyerang bahkan tidak perlu meretas dompet; cukup dengan memiliki alamat dan informasi identitas, mereka bisa melacak target secara presisi. Ini membuat saya merinding—ternyata anonimitas di blockchain ternyata sangat rapuh di hadapan identitas di dunia nyata. Risiko self-custody tidak pernah hanya soal kehilangan kunci privat, melainkan ketika identitas nyata terbongkar, pemegang koin justru berubah menjadi brankas yang bisa dipindahkan. Saya bahkan mulai mempertanyakan: apakah mereka yang dulu mengejek lembaga penitipan (custody) yang bocor datanya, mungkin mengabaikan fakta bahwa diri mereka sendiri sedang “telanjang” di basis data pemerintah? Privasi BTC dibangun di atas fondasi yang tidak saling terkait; dan begitu kaitan itu terbentuk, seluruh riwayat transfer di blockchain berpotensi berubah menjadi daftar pemerasan. Ini berarti perlindungan privasi yang dulu kita kira aman, hampir tidak berarti apa-apa di hadapan kemampuan pengaitan data yang kuat. Kejadian ini membuat saya menilai ulang cara saya menyimpan BTC: apakah saya harus melepaskan sebagian obsesi untuk self-custody, lalu beralih ke strategi penyimpanan yang lebih tertutup? Atau setidaknya, jangan pernah memamerkan skala kepemilikan di ruang publik. Kontradiksi antara privasi dan keamanan sudah bergeser dari masalah teknis menjadi masalah keselamatan pribadi—dan justru hal itulah yang paling membuat saya tidak nyaman.
