Pasar minyak mentah internasional bergejolak naik-turun tajam dalam perebutan sengit antara faktor geopolitik dan fundamental. Konfrontasi AS dan Iran terkait kendali atas Selat Hormuz terus meningkat, insiden serangan terhadap kapal tanker kian sering terjadi, AS mengancam dapat mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas, sementara proses perdamaian tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Kekhawatiran pasar akan terputusnya pasokan kembali memanas. Di sisi lain, faktor-faktor negatif seperti peningkatan besar persediaan minyak mentah AS dan lembaga-lembaga internasional yang menurunkan proyeksi permintaan sempat menekan harga minyak, namun pada akhirnya risiko geopolitik mendominasi. Setelah mengalami koreksi pada pertengahan pekan, harga minyak memantul dengan kuat menjelang akhir pekan, menunjukkan ketegangan Timur Tengah memegang peran utama dalam sentimen pasar. Dari sisi teknikal, pada level harian setelah harga menyentuh titik terendah, terbentuk candle bullish; harga melakukan pullback ke rata-rata bergerak jangka pendek. RSI yang sebelumnya berada di posisi tinggi kembali turun, sehingga momentum bullish mulai melemah. Namun tren kenaikan jangka menengah belum benar-benar rusak, dan lebih cenderung merupakan fase konsolidasi di area harga tinggi setelah kenaikan. MACD pada time frame empat jam membentuk dead cross, sementara upper band Bollinger berbelok turun. Harga beralih ke pola bertahan (range) yang cenderung lemah; area sekitar 84,5 pada tahap sebelumnya berubah menjadi resistensi kuat. Pada grafik per jam, harga berada dalam kanal naik, dengan kekuatan rebound yang relatif kuat. Untuk jangka pendek, utamakan skenario pullback untuk mencari peluang buy, sembari menunggu sinyal pembalikan pada resistensi kunci; tidak disarankan mengejar kenaikan secara membabi buta.

Posisi penting: Level resistensi: 84.6, 86.0; Level support: 80.7, 79.5