Langkah terbaru AS untuk memaksa sekutunya “memilih kubu” dalam persaingan AI dengan China bukan hanya kebijakan teknologi, melainkan katalis makro besar bagi kripto. Dampaknya pada Bitcoin dan Ethereum bersifat bernuansa: bertindak sebagai angin sakal maupun angin kencang, tergantung pada selera risiko pasar.
- Angin Kencang (Risk-On): Ketika ketegangan geopolitik mereda, seperti gencatan senjata AS-Iran yang membuka kembali Selat Hormuz, BTC dan ETH terus menguat. Pada bulan Juni, BTC melonjak dari $59.375 menjadi $67.000 (+12,8%), sementara ETH naik ke $1.974. Ini didorong oleh penurunan harga minyak, meredanya kekhawatiran inflasi, dan rotasi klasik “risk-on” ke aset ber-beta tinggi.
- Angin Sakal (Risk-Off): Sebaliknya, meningkatnya ketegangan bertindak seperti mandi air dingin. Saat memuncaknya permusuhan AS-Iran pada bulan Juli, BTC turun ke $62.200 (–7,4% dari puncaknya di bulan Juni), dan ETH merosot ke $1.820. Harga minyak melonjak, imbal hasil meningkat, dan arus dana ETF berbalik negatif—$1,47 miliar arus keluar menghantam dana kripto dalam satu minggu.
- Perspektif Institusional: Persaingan AI AS-China makin cepat dalam adopsi institusional. Delegasi perusahaan AS berprofil tinggi, termasuk BlackRock, Goldman Sachs, dan Apple, berkunjung ke China pada bulan Mei. Meski berfokus pada perdagangan, kunjungan itu menunjukkan meningkatnya kenyamanan terhadap infrastruktur digital lintas batas, yang berpotensi membuka jalan bagi layanan terkait kripto di Hong Kong atau daratan China di masa depan.
Yang terpenting, BTC dan ETH kini tidak lagi bergerak sendiri. Mereka sekarang bergerak seirama dengan aset risiko tradisional. Saat S&P 500 menyentuh rekor tertinggi (misalnya 7.800 pada awal Agustus), BTC sering ikut menguat. Namun ketika saham AI terkoreksi (Nasdaq turun 2,1% pada akhir Juli), kripto merasakan tekanannya juga.
#ustopressnationstopickusorchinaaicoalition
- Angin Kencang (Risk-On): Ketika ketegangan geopolitik mereda, seperti gencatan senjata AS-Iran yang membuka kembali Selat Hormuz, BTC dan ETH terus menguat. Pada bulan Juni, BTC melonjak dari $59.375 menjadi $67.000 (+12,8%), sementara ETH naik ke $1.974. Ini didorong oleh penurunan harga minyak, meredanya kekhawatiran inflasi, dan rotasi klasik “risk-on” ke aset ber-beta tinggi.
- Angin Sakal (Risk-Off): Sebaliknya, meningkatnya ketegangan bertindak seperti mandi air dingin. Saat memuncaknya permusuhan AS-Iran pada bulan Juli, BTC turun ke $62.200 (–7,4% dari puncaknya di bulan Juni), dan ETH merosot ke $1.820. Harga minyak melonjak, imbal hasil meningkat, dan arus dana ETF berbalik negatif—$1,47 miliar arus keluar menghantam dana kripto dalam satu minggu.
- Perspektif Institusional: Persaingan AI AS-China makin cepat dalam adopsi institusional. Delegasi perusahaan AS berprofil tinggi, termasuk BlackRock, Goldman Sachs, dan Apple, berkunjung ke China pada bulan Mei. Meski berfokus pada perdagangan, kunjungan itu menunjukkan meningkatnya kenyamanan terhadap infrastruktur digital lintas batas, yang berpotensi membuka jalan bagi layanan terkait kripto di Hong Kong atau daratan China di masa depan.
Yang terpenting, BTC dan ETH kini tidak lagi bergerak sendiri. Mereka sekarang bergerak seirama dengan aset risiko tradisional. Saat S&P 500 menyentuh rekor tertinggi (misalnya 7.800 pada awal Agustus), BTC sering ikut menguat. Namun ketika saham AI terkoreksi (Nasdaq turun 2,1% pada akhir Juli), kripto merasakan tekanannya juga.
#ustopressnationstopickusorchinaaicoalition