Saya pernah berpikir membuka sebuah perusahaan bersama beberapa teman itu cukup sederhana.
Setiap orang menyetor sebagian modal, menyepakati persentase kepemilikan, lalu mulai berbisnis.
Namun ketika perusahaan berkembang, pertanyaannya tidak lagi hanya tentang siapa yang menanam berapa uang.
Siapa yang memiliki berapa?
Dividen didistribusikan kepada siapa? Dan perubahan-perubahan itu dicatat di mana?
Saat itu saya menyadari sebuah hal:
Menerbitkan sebuah aset hanyalah permulaan.
Hal ini membuat saya teringat pada @Dusk .
Saat mempelajari Dusk, saya menemukan konsep native issuance yang menarik.
Tokenisasi biasanya dipahami sebagai membuat token yang mewakili suatu aset. Namun dengan native issuance, aset itu sendiri dapat diciptakan dan dikelola di-chain, sehingga aktivitas seperti issuance, transfer, servicing, dan settlement dapat dirancang dalam satu sistem yang sama.
Ini sangat penting untuk aset keuangan yang terkelola.
Sebuah obligasi atau ekuitas tidak langsung selesai siklus hidupnya setelah diterbitkan. Ia masih memiliki kepemilikan, ketentuan transfer, corporate actions, pembaruan investor, dan pelaporan yang perlu ditangani seiring waktu.
Dusk berupaya menghadirkan workflow tersebut dalam satu infrastruktur, alih-alih membiarkan kepemilikan, transfer, dan servicing tersebar di berbagai sistem yang berbeda.
Itulah bagian yang menurut saya menarik.
Blockchain tidak hanya seharusnya membantu kita membuat sebuah token.
Bisakah suatu aset diciptakan, dikelola, dan ditransfer di-chain sepanjang siklus hidupnya, sementara privasi, kepatuhan, dan settlement tetap terjaga?
Bagi saya, itulah makna yang lebih dalam dari menghadirkan finansial ke-chain.
Bukan hanya men-tokenisasi aset.
Melainkan membangun sebuah infrastruktur tempat siklus hidup aset dapat dikelola sejak awal.
#dusk $DUSK