#dusk $DUSK @Dusk

Dulu aku mengira Mode Darurat milik Dusk hanyalah rencana cadangan ketika jaringan tidak bisa menghasilkan sebuah blok.

Tapi setelah melihat lebih dalam, menurutku ada gagasan yang lebih menarik di sini: bagaimana cara menjaga agar blockchain tetap berjalan ketika konsensus normal mulai gagal?

Dusk biasanya bergerak melalui iterasi yang melibatkan blok yang diusulkan, divalidasi, dan diratifikasi. Namun jika terlalu banyak provisioner offline, beberapa iterasi bisa gagal satu demi satu.

Setelah 16 iterasi berturut-turut gagal, Dusk dapat masuk ke Mode Darurat.

Yang berubah di sini cukup menarik. Batas waktu normal step tidak lagi menjadi kendala utama, dan beberapa iterasi yang masih terbuka bisa terus mencoba sampai salah satunya mencapai kuorum.

Tentu, itu menimbulkan masalah lain. Banyak kandidat juga berarti peluang lebih tinggi untuk terjadi blok yang saling bersaing.

Dusk mengatasinya dengan menerima blok yang berhasil dari iterasi bernomor terendah dan menutup iterasi lain yang masih terbuka.

Tapi bagaimana jika iterasi terakhir pun tidak bisa mencapai kuorum?

Di situlah Emergency Block Requests (Permintaan Blok Darurat) berperan.

Jika mayoritas provisioner berdasarkan bobot kepemilikan (stake) meminta satu, Dusk bisa membuat blok kosong khusus, yang ditandatangani oleh Dusk sendiri, sehingga rantai bisa bergerak maju daripada terjebak selamanya.

Bagian yang paling menarik bagiku adalah trade-off (komprominya).

Dusk menambahkan fallback terpusat yang terkontrol untuk melindungi kelangsungan jaringan (network liveness) saat terjadi skenario kegagalan yang ekstrem.

Jadi mungkin pertanyaan sebenarnya bukan apakah Mode Darurat cukup terdesentralisasi.

Melainkan apakah menjaga agar jaringan tetap hidup dalam situasi terburuk itu sepadan dengan kompromi kecil tersebut.

Keseimbangan antara desentralisasi dan kelangsungan adalah yang membuat desain konsensus Dusk menarik bagiku.